Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Devil's Advocate’ Category

Akhir akhir ini, saya merasakan aroma kebencian yang ditanam pada agama yang saya anut oleh sebagian ummatnya mulai berbuah, dan api kebencian ini mulai membakar dan menghancurkan apa yang ada dihadapannya.

Dulu ada teman saya yang mengatakan bahwa ada konspirasi dari luar untuk menghancurkan nusantara, dan saya katakan bahwa itu hanya dia saja yang melihat konspirasi dibalik semua tragedi, tetapi sekarang saya tidak yakin lagi atas apa yang saya katakan padanya dahulu.

Genosida – menurut KBBI adalah pembunuhan besar-besaran secara berencana terhadap suatu bangsa atau ras. Dan untuk terlaksananya genosida, ada beberapa tahapan dan karakteristik yang unik, dan jika kita perhatikan, kondisi di Indonesia sudah sampai tingkat yang mana, silahkan nilai sendiri…

  1. Klasifikasi
    Pada tahapan ini mulai mebagi ummat dengan “kita” dan “mereka” berdasar etnik, ras, agama, mazhab, ataupun suku bangsa. Dan masyarakat yang homogen biasanya yang paling mudah melakukan stereotyping ini.
  2. Simbolisasi
    Pada tahapan ini, kita mulai memberikan simbol kepada klasifikasi yang dibuat di tahap pertama. Kita sebut orang orang ini “Cina” atau “Syiah”, atau membedakan mereka dengan ciri ciri pakaian atau fisik, dan meletakkan simbol ini pada keseluruhan mereka. Klasifikasi dan Simbolisasi ini sebenarnya masih bisa dibilang wajar atau lumrah, jika saja tidak berlanjut ke tahap ke tiga.
  3. Dehumanisasi
    Pada tahap ini lah sesungguhnya dimulai program genosida ini. Dimana satu kelompok ummat menganggap kelompok lain bukan manusia. Kelompok lain ini akan disamakan dengan binatang, wabah, penyakit, dan musuh yang hendak menghancurkan ummat. Dan dengan dehumanisasi ini, akan membuat masyarakat imun/mati-rasa jika melihat pembunuhan dan pembantaian kepada target operasi (misalnya mereka yang di kafirkan).
    Lalu biasanya mereka akan berlindung dibalik kebebasan berekspresi/bicara, dan jika dilarang memberikan ujaran kebencian nya, maka akan segera heboh dan mengatakan bahwa ada konspirasi besar untuk menjatuhkan ummat.
  4. Organisasi
    Pembantaian massal selalu terorganisasi, dan pada umumnya di lakukan oleh yang berkuasa, seringkali menggunakan tangan tangan milisi swakarsa, sehingga memberikan alasan bagi penguasa untuk berkelit dari tanggung jawab di dunia. Kadang organisasi ini bersifat informal seperti gerombolan hindu yang di backing oleh pemimpin RSS lokal. Dan milisi dan preman preman ini kadang kala di latih dan di persenjatai.

    geno2

  5. Polarisasi
    Ekstrimis akan menjauhkan dua kelompok ke dalam dua kubu. Kelompok takfiri dan ekstrimis akan menyiarkan fitnah dan propaganda. Dan akan di ujar ujar larangan untuk bersosialisasi dengan kelompok “musuh”, dengan dalih “mereka punya agenda” [So What gitu loh?!]. Orang orang ekstrim ini punya target kelompok moderat, dan dengan mengintimidasi kaum moderat ini, mereka akan membungkam suara suara yang berbeda dengan tuduhan tuduhan seperti; kafir, bid’ah, agen asing, dan lain lain. Orang orang moderat yang berasal dari kelompok ekstrim ini adalah mereka yang paling bisa mencegah terjadinya genosida, dan justru karena itulah biasanya mereka yang di hajar duluan.
    Di salah satu artikelnya, John Pilger mengutip penuntut pada pengadilan kejahatan perang Nuremberg, dimana dikatakan pada saat perang, peran media adalah menyiapkan masyarakat secara psikologi atas dampak dari serangan yang akan dilakukan.
  1. Persiapan
    Daftar korban mulai di siapkan, tenpat tempat bisnis dan usaha mereka didata, daftar nama target operasi disiapkan dan mulai di edarkan. Harta benda milik mereka di halalkan, anak anak perempuan dan istri mereka akan dijadikan budak dan di hinakan. Rumah rumah mereka ditandai, dan pada saat ini, tinggal menunggu waktu saja untuk genosida dilaksanakan.
  2. Pembantaian
    Ini akan berlangsung cepat, dan bagi pembantai, mereka tidak ada perasaan menyesal atau kasihan, karena bagi mereka, korbannya tidak sepenuhnya manusia. Mereka merasa melakukan tugas suci atas nama Agama/Bangsa/Negara. Lalu jika hal ini di sponsori oleh aparat, biasanya mereka akan turut serta bersama para milisi untuk melakukan pembantaian ini.
  3. Penolakan/Pengingkaran
    Denial
    adalah tahap terakhir yang selalu hadir ketika genosida selesai dilakukan. Dan ini juga salah satu indikator utama bahwa genosida akan kembali berlangsung di masa yang akan datang. Para pelaku akan menggali kuburan massal dan membakar habis bukti bukti kekejaman mereka, sementara para ibu ibu solehah akan mengatakan bahwa korbanlah sebenarnya yang salah, karena mereka ikut paham yang salah. Pelakunya hanyalah menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. Lalu para alim ulama dan ahli hukum mereka akan menjustifikasi semua kejadian ini sebagai bentuk self-defense dan dibesar besarkan oleh media kafir/asing/musuh. Dan setelah itu para pejabat dan aparatnya akan melakukan segala usaha untuk menghalangi penyelidikan dan pelaporan dari kondisi yang sebenarnya, sama seperti ketika para penguasa di abad ke tujuh (sampai pada masa kini) menghalangi penyebaran berita tentang apa yang terjadi di Karbala.

Apakah tahapan tahapan ini sudah ada di nusantara, saya pribadi cenderung berpendapat demikian, kenapa? Karena 3 hal:

  1. Media sosial sudah jadi ajang fitnah dan bakar membakar, dan pelakunya yang saleh dan saleha merasa berjihad di jalan yang benar.
  2. Media media yang berubah fungsi menjadi penghembus kayu bakar, sila lihat Vo***lam.com, Arr***ah.com, Panj**as.com, yang memonopoli kebenaran dan mengambil hak Tuhan untuk menjerembabkan mereka yang tidak sepaham ke Jahannam.
  3. Sudah timbul korban jiwa. Cukup banyak kejadian yang bisa jadi rujukan. Saya kasih contoh 2 saja yang kebetulan saya mengetahuinya, yaitu sampit dan sampang. Yang satu karena etnis dan satunya lagi karena madzhab.

Terngiang apa yang pernah kakek saya katakan…

“In the end, we will remember not the voice of our enemy, but the silent of our friends”.

Referensi:

http://www.genocidewatch.org/genocide/8stagesofgenocide.html
http://howgenocidesend.ssrc.org/Moses/
https://en.wikipedia.org/wiki/Eight_stages_of_genocide
http://www.commondreams.org/views/2016/10/20/perpetual-killing-field-worst-place-earth
http://johnpilger.com/articles/inside-the-invisible-government-war-propaganda-clinton-trump

Read Full Post »

Ingin menulis ini sudah cukup lama, tetapi cukup sulit bagi saya untuk mengungkapkannya, karena bahannya ga ada, dan hanya mengandalkan ingatan saat pelatihan di suatu kota di seberang pulau sumatera.

Walaupun training ini sudah cukup lama, dan pada umumnya daya ingat saya terhadap materi pelatihan maksimum satu bulan, tetapi materi yang satu ini tetap jelas teringat, karena mengingatkan saya kepada cerita Abunawas yang mencari jarum di halaman rumahnya sementara jarumnya jatuh di dalam rumah.

Di siang itu, trainernya memulai dengan bercerita tentang hal yang paling merusak kehidupan manusia menurut beliau adalah marketing dan advertising, tepatnya Iklan. Dia mengisahkan betapa cita citanya waktu lulus SMA adalah punya mobil sport sendiri dan dengan itu dia bisa membawa cewe cewe cantik kencan dan akhirnya dia akan bahagia. Itu gara gara dia melihat iklan rokok di masa kecilnya yang menunjukkan betapa kerennya mereka yang merokok dan dikelilingi wanita wanita cantik macam di film james bond.

Baca tulisan selanjutnya…

Read Full Post »

Baru baru ini membaca postingan dari beberapa sahabat tentang bagaimana kemiskinan itu adalah buah dari yang tumbuh dari pohon kemalasan dan kebodohan.

Intinya, hanya orang malas dan bodoh yang miskin, jika saja mereka mau bekerja keras dan berusaha, tidak akan miskin. Terus terang saya agak kaget, membaca tulisan ini, yang walaupun di kemas dengan bahasa yang apik, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal ketika mencernanya.

Ada dua kiriman dari sahabat-sahabat itu, yang pertama adalah artikel yang mengambil dari buku Tom Corley, seorang penulis yang katanya melakukan survey selama bertahun tahun tentang kebiasaan orang kaya dan orang miskin, lalu kemudian dia menuliskannya dalam sebuah buku, kebiasaan orang kaya yang tidak dimiliki oleh orang miskin itu di tuliskannya dalam daftar yang cukup panjang, dan banyak yang ga nyambung, misalnya 80% orang kaya ngucapin selamat ulang tahun, dibanding orang miskin yang hanya 11% [lha, gimana mau ngucapin selamat ulang tahun. Kalau lahirnya aja nggak tahu kapan…], atau orang kaya lebih banyak yang gosok gigi dibanding orang tak punya, berikut sebagian dari daftar kebiasaan orang kaya yang tidak dimiliki orang miskin menurutnya;

Baca tulisan selengkapnya…

Read Full Post »

Kakek saya pernah berkata, manusia itu takut kepada perubahan, bukan pada perubahannya sendiri, tetapi pada dasarnya takut kepada sesuatu yang tidak mereka ketahui. Makanya kebanyakan orang takut kepada malam/gelap dan takut pada mati, karena kita nggak tahu apa yang ada di dalam kegelapan dan juga ga tau apa yang terjadi setelah mati.

Memang kebanyakan dari kita mengaku beriman dan percaya pada kitab suci serta percaya bahwa ada hidup setelah mati, tetapi mayoritas dari kita hanya percaya saja dan tidak sepenuhnya percaya, yaitu percaya dalam ucapan dan pikiran, tetapi di alam bawah sadar kita, kita ragu atau sebenarnya ga percaya, cuman ga berani bilangnya sehingga kebanyakan dari kita takut mati.

Sekarang pertanyaannya, apakah kita perlu merasa takut? Apakah takut itu baik? Saya termasuk orang yang percaya bahwa takut itu penting dan perlu, karena jika kita tidak kenal takut, kecil kemungkinan kita bisa bertahan hidup, takut adalah salah satu mekanisme self-defense untuk kita bisa survive hidup di dunia ini.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Pada tulisan sebelumnya, saya membicarakan tentang betapa sulitnya hidup di dunia dengan pilihan pilihan yang sulit, yang malangnya bukan bertambah mudah dengan kemajuan zaman, malah jadi lebih susah.

Sekarang kita akan membahas tentang apa yang disebut kehendak bebas (free will),  tetapi bukan dari pengertian tentang apa itu kehendak bebas, cukuplah saya utarakan disini apa yang dikatakan oleh Imam Ali Zain Al Abidin ketika ditanya tentang apa itu Qada’ dan Qadar, beliau menjawab: Coba angkat satu kakimu sementara kamu berdiri, yang di ikuti oleh sahabatnya itu, lalu beliau berkata lagi, sekarang angkat kakimu yang satu lagi, yang kontan dijawab oleh sahabatnya bahwa dia tidak bisa. Nah itulah yang pertama disebut Qada’ (Freewill) dan yang kedua disebut Qadar (Predestinasi).

Ada ketetapan Tuhan yang tidak bisa kita ubah, misalnya kita tidak bisa mengubah tanggal lahir kita, walaupun tentunya kita bisa mengubah dokumen akta kelahiran atau ktp kita, tetapi tanggal lahir kita diluar kuasa kita untuk mengubahnya.

Yang ingin saya sampaikan adalah kita selalu punya pilihan dan selalu membuat pilihan dalam hidup ini, dan sebenarnya kita sudah punya moral kompas untuk membantu kita dalam menentukan pilihan yaitu cahaya ilahiah di dalam diri, dan selain itu di beri panutan juga dalam pribadi para nabi dan rasul.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Seperti sudah pernah di bahas sebelumnya, kita tahu bahwa dunia ini penuh tipu daya, dan hidup di dunia yang penuh tipu daya ini tidaklah mudah, kalau kata sodara saya dahulu kala, “mau cari nafkah yang haram saja susah, apalagi yang halal”.

Hal ini benar adanya dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kemerosotan akhlaq hampir di seluruh penjuru dunia, betapa kita lihat semakin banyak orang pintar tetapi tambah sedikit orang bijak (mohon dicatat bahwa saya tidaklah pintar maupun bijak).

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, hidup menjadi lebih nyaman, tetapi ada masalah lain yang timbul adalah, makin banyaknya bayang bayang yang menghalangi kita untuk melihat hakikat dunia, sehingga bisa dibilang jika kehidupan ini adalah ujian, maka soalnya makin lama makin susah, mungkin orang orang dahulu yang lulus dengan nilai baik jika kembali lagi sekarang bisa bisa nggak lulus.

Kenapa bisa berkesimpulan begitu? Karena fakta sederhana yaitu pilihan yang makin banyak, yang artinya sama dengan godaaan yang makin banyak, yang kembali seperti kata sodara ane diatas, sudah nggak jelas lagi bedanya antara yang halal sama yang haram, antara yang baik dan yang buruk, atau seperti yang Al Imam Ali KW katakan bertahun tahun yang lalu:

“Apa yang hendak kukata tentang tempat yang awalnya kesukaran, akhirnya kefanaan, halalnya diperhitungkan dan haramnya diberi balasan. Orang yang berkecukupan di dalamnya akan difitnah dan yang ber kekurangan akan resah. Orang yang mengejarnya selalu luput, dan yang enggan terhadapnya, maka ia akan lulut. Orang yang bercermin padanya akan berpandangan dan yang memandanginya akan buta.”

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Baru baru ini saya menyinggung sedikit pengalaman belajar saya dahulu di waktu kecil dimana peran anak didik diminta untuk menerima dan menghapal dogma tanpa boleh bertanya (pertanyaan yang boleh diajukan adalah pertanyaan mengenai what, dan haram bertanya tentang why).

Sekarang, looking back and reflect on those things bikin saya cenderung berpendapat bahwa pemahaman lebih penting dari hapalan, bahwa pendidikan utamanya adalah mengenai konsep terlebih dahulu dibandingkan hapalan rumus.

Saya bukanlah praktisi pendidikan dan saya juga sudah lama sekali melewati masa pendidikan formal, dan dari sekelumit pengetahuan tentang pendidikan formal kita adalah; anak didik lebih banyak di suruh menghapal dan menghapal, tanpa dibekali pemahaman apa yang ada dibalik hapalan tersebut, dan hal ini malah berlaku terlebih untuk pendidikan agama.

Lalu, jika ada anak didik yang bertanya, maka akan dianggap anak didik yang nakal atau lamban, sehingga anak didik kita diberikan insentif untuk diam dan menyimak, either ngerti atau nggak dengan materi dari sang guru. Dogma yang berlaku umum disini adalah sami’na wa atho’na (dengarkan dan patuhi), jadinya kita sukses menciptakan robot robot yang tidak memiliki kreatifitas, dan lanjutannya, kita akan menjadi masyarakat yang sulit menerima perbedaan, kita ingin semuanya serba seragam, bahkan dalam cara berpikir.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Older Posts »