Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Islam’ Category

Akhir akhir ini banyak sekali ujaran kebencian yang dasarnya adalah dusta, dan malangnya disebarkan dengan sepenuh hati oleh orang orang yang saleh dan salehah, tetapi yang lebih memprihatinkan buat saya adalah ketika di beritahu bahwa apa yang mereka bawa tidak berdasar fakta, mereka tetap istiqomah.

Apakah anda pernah memperhatikan ketika anda memberikan fakta kepada seseorang yang mana fakta tersebut bertentangan dengan apa yang sangat diyakini olehnya, mereka akan merubah pandangannya? Saya juga belum ketemu eh 🙂. Malah kejadiannya, kalau sudah beriman sepenuh hati pada misalnya kebohongan pada salah satu calon pemimpin lawan, maka ketika disodorkan fakta yang bertentangan dengan keyakinannya, akan tambah menjadi jadi membela keyakinannya tersebut. Nah, saya baru baru ini membaca sifat sifat salah paham ini adalah karena perasaan bahwa iman lah yang sedang di goyang ketika hadir fakta fakta yang bertentangan.

Baca Kisah Selanjutnya…

Read Full Post »

Akhir akhir ini, saya merasakan aroma kebencian yang ditanam pada agama yang saya anut oleh sebagian ummatnya mulai berbuah, dan api kebencian ini mulai membakar dan menghancurkan apa yang ada dihadapannya.

Dulu ada teman saya yang mengatakan bahwa ada konspirasi dari luar untuk menghancurkan nusantara, dan saya katakan bahwa itu hanya dia saja yang melihat konspirasi dibalik semua tragedi, tetapi sekarang saya tidak yakin lagi atas apa yang saya katakan padanya dahulu.

Genosida – menurut KBBI adalah pembunuhan besar-besaran secara berencana terhadap suatu bangsa atau ras. Dan untuk terlaksananya genosida, ada beberapa tahapan dan karakteristik yang unik, dan jika kita perhatikan, kondisi di Indonesia sudah sampai tingkat yang mana, silahkan nilai sendiri…

  1. Klasifikasi
    Pada tahapan ini mulai mebagi ummat dengan “kita” dan “mereka” berdasar etnik, ras, agama, mazhab, ataupun suku bangsa. Dan masyarakat yang homogen biasanya yang paling mudah melakukan stereotyping ini.
  2. Simbolisasi
    Pada tahapan ini, kita mulai memberikan simbol kepada klasifikasi yang dibuat di tahap pertama. Kita sebut orang orang ini “Cina” atau “Syiah”, atau membedakan mereka dengan ciri ciri pakaian atau fisik, dan meletakkan simbol ini pada keseluruhan mereka. Klasifikasi dan Simbolisasi ini sebenarnya masih bisa dibilang wajar atau lumrah, jika saja tidak berlanjut ke tahap ke tiga.
  3. Dehumanisasi
    Pada tahap ini lah sesungguhnya dimulai program genosida ini. Dimana satu kelompok ummat menganggap kelompok lain bukan manusia. Kelompok lain ini akan disamakan dengan binatang, wabah, penyakit, dan musuh yang hendak menghancurkan ummat. Dan dengan dehumanisasi ini, akan membuat masyarakat imun/mati-rasa jika melihat pembunuhan dan pembantaian kepada target operasi (misalnya mereka yang di kafirkan).
    Lalu biasanya mereka akan berlindung dibalik kebebasan berekspresi/bicara, dan jika dilarang memberikan ujaran kebencian nya, maka akan segera heboh dan mengatakan bahwa ada konspirasi besar untuk menjatuhkan ummat.
  4. Organisasi
    Pembantaian massal selalu terorganisasi, dan pada umumnya di lakukan oleh yang berkuasa, seringkali menggunakan tangan tangan milisi swakarsa, sehingga memberikan alasan bagi penguasa untuk berkelit dari tanggung jawab di dunia. Kadang organisasi ini bersifat informal seperti gerombolan hindu yang di backing oleh pemimpin RSS lokal. Dan milisi dan preman preman ini kadang kala di latih dan di persenjatai.

    geno2

  5. Polarisasi
    Ekstrimis akan menjauhkan dua kelompok ke dalam dua kubu. Kelompok takfiri dan ekstrimis akan menyiarkan fitnah dan propaganda. Dan akan di ujar ujar larangan untuk bersosialisasi dengan kelompok “musuh”, dengan dalih “mereka punya agenda” [So What gitu loh?!]. Orang orang ekstrim ini punya target kelompok moderat, dan dengan mengintimidasi kaum moderat ini, mereka akan membungkam suara suara yang berbeda dengan tuduhan tuduhan seperti; kafir, bid’ah, agen asing, dan lain lain. Orang orang moderat yang berasal dari kelompok ekstrim ini adalah mereka yang paling bisa mencegah terjadinya genosida, dan justru karena itulah biasanya mereka yang di hajar duluan.
    Di salah satu artikelnya, John Pilger mengutip penuntut pada pengadilan kejahatan perang Nuremberg, dimana dikatakan pada saat perang, peran media adalah menyiapkan masyarakat secara psikologi atas dampak dari serangan yang akan dilakukan.
  1. Persiapan
    Daftar korban mulai di siapkan, tenpat tempat bisnis dan usaha mereka didata, daftar nama target operasi disiapkan dan mulai di edarkan. Harta benda milik mereka di halalkan, anak anak perempuan dan istri mereka akan dijadikan budak dan di hinakan. Rumah rumah mereka ditandai, dan pada saat ini, tinggal menunggu waktu saja untuk genosida dilaksanakan.
  2. Pembantaian
    Ini akan berlangsung cepat, dan bagi pembantai, mereka tidak ada perasaan menyesal atau kasihan, karena bagi mereka, korbannya tidak sepenuhnya manusia. Mereka merasa melakukan tugas suci atas nama Agama/Bangsa/Negara. Lalu jika hal ini di sponsori oleh aparat, biasanya mereka akan turut serta bersama para milisi untuk melakukan pembantaian ini.
  3. Penolakan/Pengingkaran
    Denial
    adalah tahap terakhir yang selalu hadir ketika genosida selesai dilakukan. Dan ini juga salah satu indikator utama bahwa genosida akan kembali berlangsung di masa yang akan datang. Para pelaku akan menggali kuburan massal dan membakar habis bukti bukti kekejaman mereka, sementara para ibu ibu solehah akan mengatakan bahwa korbanlah sebenarnya yang salah, karena mereka ikut paham yang salah. Pelakunya hanyalah menjalankan amar ma’ruf nahi munkar. Lalu para alim ulama dan ahli hukum mereka akan menjustifikasi semua kejadian ini sebagai bentuk self-defense dan dibesar besarkan oleh media kafir/asing/musuh. Dan setelah itu para pejabat dan aparatnya akan melakukan segala usaha untuk menghalangi penyelidikan dan pelaporan dari kondisi yang sebenarnya, sama seperti ketika para penguasa di abad ke tujuh (sampai pada masa kini) menghalangi penyebaran berita tentang apa yang terjadi di Karbala.

Apakah tahapan tahapan ini sudah ada di nusantara, saya pribadi cenderung berpendapat demikian, kenapa? Karena 3 hal:

  1. Media sosial sudah jadi ajang fitnah dan bakar membakar, dan pelakunya yang saleh dan saleha merasa berjihad di jalan yang benar.
  2. Media media yang berubah fungsi menjadi penghembus kayu bakar, sila lihat Vo***lam.com, Arr***ah.com, Panj**as.com, yang memonopoli kebenaran dan mengambil hak Tuhan untuk menjerembabkan mereka yang tidak sepaham ke Jahannam.
  3. Sudah timbul korban jiwa. Cukup banyak kejadian yang bisa jadi rujukan. Saya kasih contoh 2 saja yang kebetulan saya mengetahuinya, yaitu sampit dan sampang. Yang satu karena etnis dan satunya lagi karena madzhab.

Terngiang apa yang pernah kakek saya katakan…

“In the end, we will remember not the voice of our enemy, but the silent of our friends”.

Referensi:

http://www.genocidewatch.org/genocide/8stagesofgenocide.html
http://howgenocidesend.ssrc.org/Moses/
https://en.wikipedia.org/wiki/Eight_stages_of_genocide
http://www.commondreams.org/views/2016/10/20/perpetual-killing-field-worst-place-earth
http://johnpilger.com/articles/inside-the-invisible-government-war-propaganda-clinton-trump

Read Full Post »

Ingin menulis tentang tema ini setelah melihat pengajian dengan ustadz yang mirip banget sama Samuel L Jackson. [Asli sampai sampai sempet mengira dia masuk Islam dang ganti nama jadi Osamuel Bin Jackson].

saf

Ustadz Hanif memulai ceramahnya dengan membawakan kisah tentang berhala dan definisinya dalam Islam, dan apa yang menjadi arti kata illah dalam kalimat tauhid, yang kemudian di zaman sekarang oleh teman teman wahabi banyak di artikan sebagai patung patung, dan sampai sampai peninggalan sejarah juga dihancurkan oleh mereka dengan dalih memberantas berhala dan menegakkan tauhid.

hjjh

Kata illah dalam kalimat tauhid menurut beliau adalah poros/engsel dimana hidup kita berputar padanya, makanya kalau kata orang bule, orang gila itu disebut juga unhinged, karena dia hidup kehilangan pegangan/poros.

Siapapun dia, entah atheist maupun orang beriman, membutuhkan tema sentral (point of references) dalam hidupnya, dan kadang kadang lebih dari satu, dimana dia dapat mengevaluasi dirinya sendiri, dan bisa mengatakan bahwa saya orang baik atau buruk, bahwa jalan ini yang benar dan yang itu salah. Saya adalah saya hari ini karena tema sentral dimana hidup saya berporos ini, dan tema sentral tempat hidup kita berporos itulah tuhan kita, kadang kadang kita butuh beberapa macam “tuhan” ini, kadang kita butuh tuhan untuk pekerjaan kita, kadang untuk kehidupan pribadi, kadang untuk anak anak dan keluarga. Dan tuhan tuhan dalam hidup kita ada memiliki  tingkatan tingkatan, tuhan anda bisa ego anda sendiri, bisa kendaraan anda, bisa anak anda, bisa pekerjaan anda, ataupun bisa juga ideologi.

Ketika kita mengucapkan “La ilaha illALLAH”, itu artinya kita berikrar untuk menolak semua tuhan tuhan kecil tadi karena hal itu menjadi penghalang antara kita dengan Allah.

Dan yang perlu kita ketahui sekarang ini adalah apa saja berhala di zaman modern ini? Dan ini juga yang teman teman wahabi kita mendapatkan kesulitan, karena mereka terjebak ke stereotyping menerjemahkan tuhan dengan t kecil ini sebagai patung patung, sampai museum di kota mosul di hancurkan sampe bersih oleh mereka, dan sepertinya mereka lupa atau tidak sadar bahwa patung patung peninggalan sejarah di museum ini sudah tidak ada yang menyembahnya lagi, dan mereka dengan nyaman mengabaikan berhala ego, berhala harta yang dijadikan tuhan oleh pangeran pangeran Saudi yang membiayai mereka, dan menurut beliau ini adalah karena mereka gagal melihat Islam dari sisi prinsipnya, mereka lebih memperhatikan kulit/bungkus dan melupakan isi/esensi.

Referensi:
https://www.youtube.com/watch?v=AJ9wvHq3eQ8
https://www.youtube.com/watch?v=fK7QOs4gzyU

Read Full Post »

Baru baru ini melihat ceramah singkat dari salah seorang penceramah/preacher tentang bagaimana seharusnya kita bersikap, bagaimana mengubah kesulitan menjadi ibadah [How to transform hardship into worship].

Kita ingat tentang dongeng masa kecil tentang bagaimana si kelinci mengajak kura kura bertanding lari, dan ternyata yang memenangkan pertandingan adalah kura kura, karena si kelinci terlalu menganggap enteng kura kura dan ketika melihat kura kura jauh tertinggal di belakang, si kelinci malah duduk duduk dahulu santai santai dan kemudian tertidur sehingga di balap oleh sang kura kura.

tortoise hare

Dalam banyak hal, hidup pun seperti ini, tentu ada tujuan yang mesti dicapai dalam waktu tertentu, dan jika kita perhatikan, orang orang yang sukses bukanlah mereka yang paling berbakat, tetapi lebih banyak dari orang orang yang bekerja dengan giat mencapai tujuan hidupnya dan selalu fokus kepada tujuannya, seperti peribahasa yang diajarkan oleh orang orang tua kita dahulu, “dimana ada kemauan, disana ada jalan”. Malangnya kita seringkali berpikir panjang tentang jalan jalan yang hendak digunakan tetapi tidak melangkah satu langkahpun menapaki jalan tersebut. Atau, jika kita sudah melangkah, menapaki jalan, kita akan jadi seperti kelinci dalam kisah diatas, yang terpesona kepada hiasan hiasan di jalan itu sehingga lupa akan tujuan.

Banyak kita lihat orang orang berbakat yang akhirnya menyia nyiakan bakat yang mereka miliki dan merusak hidupnya sendiri, mulai dari atlit sampai artis, dari negarawan sampai agamawan.

Yang paling penting adalah memulai dengan pertanyaan apa tujuan hidup kita? Untuk apa kita bangun dari tidur tiap hari? Menurut saya ini adalah salah satu hal yang paling penting dari banyak hal penting  lainnya dalam hidup kita. Tiap orang perlu menjalani proses ini dimana mereka perlu tahu tujuan hidupnya.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Dahulu sempat saya berpikir bahwa apa apa yang tidak bisa menyakiti saya secara fisik [i.e. digaplok, ditonjok, dibacok, etc] tidak akan bikin saya sakit, misalnya kalau cuman dikatain aja mah cetek, kan ada peribahasa yang ada doggy doggy sama kafilah berlalu 😉

Tapi setelah sekian lama, saya merasa ada yang kurang tepat dengan cara pikir saya ini, ternyata apa yang kita dengar juga bisa menyakitkan kita, bahkan lebih sakit dari deraan fisik. Sebagai sekedar contoh, penelitian membuktikan bahwa dengan mendengar kata tentang manula saja, akan membuat subjek penelitian berjalan lebih lambat, dan dalam penelitian lainnya, ketika subjek membaca kata “cinta kasih & baik hati” menunjukkan perubahan perasaan jadi lebih baik dan mengurangi kecemasan.

Atau peribahasa Cina Kuno yang mengatakan “penyakit itu masuk melalui mulut, dan bencana itu keluar dari mulut”, atau ucapan kakek saya dahulu yang bilang “mereka adalah orang yang menolong orang dengan tangan mereka dan menyembelih orang dengan lidah mereka” ketika menceritakan maksud QS 2:263.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Siapa yang akan menunggu ku dengan harap dan cemas di kampung halamanku?
Siapa yang akan gelisah ketika kabar dariku tidak kunjung sampai?

Aku akan berziarah ke makam mu dan akan berkata:

Siapa lagi yang akan mengingatku dalam doa doa malamnya
Seluruh hidup mu engkau memberi dan memberi, mencurahkan seluruh kasih dan sayang…
tetapi setelah aku sekarang mampu merawatmu, engkau pergi meninggalkan ku

-Muhammad Iqbal

miss u mom

5 hal yang paling aku kagumi dari ibuku:

  1. Mama nggak pernah menolak membantu orang siapapun dia.
  2. Mama nggak pernah menyakiti orang, selalu berbuat baik pada sesama.
  3. Mama selalu sayang dan kasih sama aku apapun yang terjadi, bahkan di saat aku mengecewakannya.
  4. Mama nggak pernah bisa tidur nyenyak jika aku belum pulang, dan bahkan ketika aku pulang tengah malam pun, beliau akan bangun dan menemani aku makan.
  5. Mama ku nggak pernah mengeluh, seberat apapun beban di pundaknya, dia terus melangkah.

Daftar yang saya tulis diatas memang menunjukkan betapa egoisnya saya, tetapi lebih dari itu semua, menunjukkan betapa mulianya kedudukan seorang Ibu, seperti apa yang di firmankan Allah SWT “Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbakti kepada) kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu dan hanya kepada-Ku lah kembalimu.“ (QS 31: 14).

Banyak sekali hadis Nabi yang menunjukkan kemuliaan kedudukan seorang ibu, dan ironisnya kita seringkali menganggap remeh dan berpikir sudah jadi kewajiban seorang ibu untuk mencintai anaknya dan tidak ada kewajiban di sisi sang anak untuk berbakti padanya, selain meluangkan waktu seadanya dan materi sekedarnya hanya untuk pemenuhan kewajiban saja.

10 anak 1 ibu

Dan kenapa penyesalan selalu datang di akhir? Kenapa manusia selalu menyesal di akhir? Sungguh pertanyaan yang sulit bagi saya… Jika ada yang bisa kasi tahu, mohon pencerahannya

Read Full Post »

Sering kali timbul pertanyaan dalam hati, kenapa dengan kemajuan teknologi dan pembangunan, orang sekarang perilakunya tidak menjadi lebih baik, jika kita perhatikan kota kota besar Nusantara, kita akan dapati kebanyakan penduduk kota sudah tidak lagi peduli pada sesama, bahkan ada gerakan yang anti orang miskin, dimana pengemis dan gelandangan akan di usir dan di beri label sebagai manusia manusia malas, sementara mereka berbondong bondong menghabiskan uang mereka di mall mall belanja hal hal yang tidak mereka butuhkan, sungguh saya muak dengan “mereka yang masih bisa tertawa sementara korban merintih di kedua kakinya…”

Dulu ketika saya masih kecil dan tinggal di kota besar, saya dapati manusianya lebih toleran kepada sesama, sudah menjadi norma umum bahwa jika kita naik bis kota dan kita dapati ada wanita yang baru naik, maka para pria akan segera berdiri menyediakan tempat duduknya untuk kaum wanita, sementara jika kita sekarang naik bis kota atau bus way, kita akan dapati jika ada ibu ibu hamil gendong anak naik bus sementara bangku sudah penuh dan yang duduk adalah pemuda dan bapak bapak, semuanya akan cuek dan sebagiannya akan pura pura tidur.

Kenapa masyarakat di kota besar (terutama) menjadi semakin egois dan akhlaqnya jadi tambah buruk (buang sampah sembarangan, nggak mau antri, mudah marah, selalu terburu buru, sering mengeluh, malas kerja, suka bohong, nggak peduli sama orang, hasud, tamak, dan lain sebagainya)?

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Older Posts »