Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2015

Kakek saya pernah berkata, manusia itu takut kepada perubahan, bukan pada perubahannya sendiri, tetapi pada dasarnya takut kepada sesuatu yang tidak mereka ketahui. Makanya kebanyakan orang takut kepada malam/gelap dan takut pada mati, karena kita nggak tahu apa yang ada di dalam kegelapan dan juga ga tau apa yang terjadi setelah mati.

Memang kebanyakan dari kita mengaku beriman dan percaya pada kitab suci serta percaya bahwa ada hidup setelah mati, tetapi mayoritas dari kita hanya percaya saja dan tidak sepenuhnya percaya, yaitu percaya dalam ucapan dan pikiran, tetapi di alam bawah sadar kita, kita ragu atau sebenarnya ga percaya, cuman ga berani bilangnya sehingga kebanyakan dari kita takut mati.

Sekarang pertanyaannya, apakah kita perlu merasa takut? Apakah takut itu baik? Saya termasuk orang yang percaya bahwa takut itu penting dan perlu, karena jika kita tidak kenal takut, kecil kemungkinan kita bisa bertahan hidup, takut adalah salah satu mekanisme self-defense untuk kita bisa survive hidup di dunia ini.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Iklan

Read Full Post »

Dahulu sempat saya berpikir bahwa apa apa yang tidak bisa menyakiti saya secara fisik [i.e. digaplok, ditonjok, dibacok, etc] tidak akan bikin saya sakit, misalnya kalau cuman dikatain aja mah cetek, kan ada peribahasa yang ada doggy doggy sama kafilah berlalu 😉

Tapi setelah sekian lama, saya merasa ada yang kurang tepat dengan cara pikir saya ini, ternyata apa yang kita dengar juga bisa menyakitkan kita, bahkan lebih sakit dari deraan fisik. Sebagai sekedar contoh, penelitian membuktikan bahwa dengan mendengar kata tentang manula saja, akan membuat subjek penelitian berjalan lebih lambat, dan dalam penelitian lainnya, ketika subjek membaca kata “cinta kasih & baik hati” menunjukkan perubahan perasaan jadi lebih baik dan mengurangi kecemasan.

Atau peribahasa Cina Kuno yang mengatakan “penyakit itu masuk melalui mulut, dan bencana itu keluar dari mulut”, atau ucapan kakek saya dahulu yang bilang “mereka adalah orang yang menolong orang dengan tangan mereka dan menyembelih orang dengan lidah mereka” ketika menceritakan maksud QS 2:263.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Siapa yang akan menunggu ku dengan harap dan cemas di kampung halamanku?
Siapa yang akan gelisah ketika kabar dariku tidak kunjung sampai?

Aku akan berziarah ke makam mu dan akan berkata:

Siapa lagi yang akan mengingatku dalam doa doa malamnya
Seluruh hidup mu engkau memberi dan memberi, mencurahkan seluruh kasih dan sayang…
tetapi setelah aku sekarang mampu merawatmu, engkau pergi meninggalkan ku

-Muhammad Iqbal

miss u mom

5 hal yang paling aku kagumi dari ibuku:

  1. Mama nggak pernah menolak membantu orang siapapun dia.
  2. Mama nggak pernah menyakiti orang, selalu berbuat baik pada sesama.
  3. Mama selalu sayang dan kasih sama aku apapun yang terjadi, bahkan di saat aku mengecewakannya.
  4. Mama nggak pernah bisa tidur nyenyak jika aku belum pulang, dan bahkan ketika aku pulang tengah malam pun, beliau akan bangun dan menemani aku makan.
  5. Mama ku nggak pernah mengeluh, seberat apapun beban di pundaknya, dia terus melangkah.

Daftar yang saya tulis diatas memang menunjukkan betapa egoisnya saya, tetapi lebih dari itu semua, menunjukkan betapa mulianya kedudukan seorang Ibu, seperti apa yang di firmankan Allah SWT “Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbakti kepada) kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu dan hanya kepada-Ku lah kembalimu.“ (QS 31: 14).

Banyak sekali hadis Nabi yang menunjukkan kemuliaan kedudukan seorang ibu, dan ironisnya kita seringkali menganggap remeh dan berpikir sudah jadi kewajiban seorang ibu untuk mencintai anaknya dan tidak ada kewajiban di sisi sang anak untuk berbakti padanya, selain meluangkan waktu seadanya dan materi sekedarnya hanya untuk pemenuhan kewajiban saja.

10 anak 1 ibu

Dan kenapa penyesalan selalu datang di akhir? Kenapa manusia selalu menyesal di akhir? Sungguh pertanyaan yang sulit bagi saya… Jika ada yang bisa kasi tahu, mohon pencerahannya

Read Full Post »

Ini adalah cerita tentang seorang professor yang memberikan kuliah terakhir kalinya sebelum dia berpisah selamanya dengan dunia. Bagaimana jika anda di beri tahu bahwa anda hanya punya waktu 6 bulan lagi untuk hidup di dunia ini?

Di universitas Carnegie Mellon (CMU) di Pittsburgh, Pennsylvania, ada sebuah program yang dinamakan “Last Lecture” (Kuliah Terakhir), dimana para professor disana di minta untuk berpikir apa yang paling penting dalam hidup mereka dan kemudian mereka diminta untuk menyampaikan kuliah terakhir tentang tema yang mereka pikirkan tersebut, sebagai warisan mereka untuk anak didiknya.

Kuliah Terakhir, pelajaran kehidupan

Kuliah Terakhir, pelajaran kehidupan

Nah, perkenalkan Randy Pausch, seorang professor Teknologi Komputer dengan spesialisasi di bidang Virtual Reality, Randy adalah seorang ayah dari 3 anak (Dylan 6 Tahun, Logan 3 Tahun, dan bungsu Chloe 2 tahun], Randy di diagnosis terkena Kanker Pankreas, dan di prediksi punya waktu hidup tidak lebih dari 6 bulan.

Sebelum di diagnosa oleh dokter terkena kanker pankreas, kebetulan Randy di undang untuk mengisi acara Kuliah terakhir ini, dan pada saat itu justru Randy tidak terlalu tertarik untuk memberikan mata kuliah ini, tetapi setelah di diagnosa dan di vonis hanya punya waktu sesaat lagi, maka Randy justru menyetujui untuk memberikan mata kuliahnya.

Dia memberi judul mata kuliahnya “bagaimana mencapai mimpi masa kecil mu”, jika anda menduga bahwa dia akan memberikan kuliah tentang bagaimana menghadapi maut, ataupun bicara tentang kematian dan kehidupan setelah meninggal, maka anda jauh meleset, Randy justru memberikan kuliah terkahir tentang bagaimana merayakan dan mensyukuri hidup. Bagaimana membuat hidup lebih bermakna daripada sekedar sebuah siklus biologis.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »