Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Februari, 2015

Ketika dokter Zakir Naik berbicara kepada public di Peace TV, “Yazid, radiyalluhanhu”, memang itu yang dia maksudkan, apa yang ada di bawah sadarnya dia tunjukkan kepada khalayak. Dalam ceramah ceramahnya, dia mengecam orang orang yang menurutnya adalah “peyembah kubur” dan “ahli bid’ah”, walaupun dia sangat tahu bahwa nggak ada orang Islam yang menyembah kubur atau pun meminta kepada mayit, lalu apa metoda dakwah seperti ini dimana si da’i mendistorsi fakta dan keyakinan kelompok lain karena motif motif motif politik dan kebencian?

Lulusan dari sekolah Ibn Taymiyah dan ibn Abdul Wahab telah mengakibatkan kerusakan di dunia ini, dengan aksi aksi terorisme yang mengorbankan banyak pihak yang tidak berdosa, termasuk perempuan dan anak anak, dengan mengatasnamakan Islam dan Jihad. Dan hampir tidak terdengar suara dari para da’I yang biasanya vokal ini, tentang aksi aksi teroris seperti misalnya bom bali, 9/11, dan bom bom tiap hari di Irak, hanya karena yang terbantai bukan dari harokah mereka, yang kita dengar paling paling hanya pernyataan pernyataan setengah hati, cari muka, atau malah dukungan terang terangan kepada para teroris. Apa ini perilaku ulama yang Islam ajarkan? Sungguh sedih melihat kebencian kepada Islam sekarang ini salah satu penyebabnya adalah perilaku sebagian ummatnya yang merusak nama Islam sendiri.

dr. Zakir Naik

Ketika dr. Naik berkata bahwa tragedi Karbala adalah perang dengan motif politik dan bukan berdasarkan motif agama dan contoh dari Rasulullah SAAW (secara spesifik, dia bilang ”Political War”), dia membebaskan pemimpinnya Yazid ibn Muawiyah dari kekejaman dan pembantaian yang dilakukan oleh pasukannya atas orang orang terbaik, keluarga dari insan terbaik. Dan jika terlepas perhatian dari da’i ini bahwa lebih dari 500 ayat di Qur’an menentang segala jenis penindasan, maka da’i ini sudah menyebarkan informasi yang tidak tepat tentang Qur’an dan Islam.

Baca tulisan selengkapnya…

Iklan

Read Full Post »

Baru baru ini saya menyinggung sedikit pengalaman belajar saya dahulu di waktu kecil dimana peran anak didik diminta untuk menerima dan menghapal dogma tanpa boleh bertanya (pertanyaan yang boleh diajukan adalah pertanyaan mengenai what, dan haram bertanya tentang why).

Sekarang, looking back and reflect on those things bikin saya cenderung berpendapat bahwa pemahaman lebih penting dari hapalan, bahwa pendidikan utamanya adalah mengenai konsep terlebih dahulu dibandingkan hapalan rumus.

Saya bukanlah praktisi pendidikan dan saya juga sudah lama sekali melewati masa pendidikan formal, dan dari sekelumit pengetahuan tentang pendidikan formal kita adalah; anak didik lebih banyak di suruh menghapal dan menghapal, tanpa dibekali pemahaman apa yang ada dibalik hapalan tersebut, dan hal ini malah berlaku terlebih untuk pendidikan agama.

Lalu, jika ada anak didik yang bertanya, maka akan dianggap anak didik yang nakal atau lamban, sehingga anak didik kita diberikan insentif untuk diam dan menyimak, either ngerti atau nggak dengan materi dari sang guru. Dogma yang berlaku umum disini adalah sami’na wa atho’na (dengarkan dan patuhi), jadinya kita sukses menciptakan robot robot yang tidak memiliki kreatifitas, dan lanjutannya, kita akan menjadi masyarakat yang sulit menerima perbedaan, kita ingin semuanya serba seragam, bahkan dalam cara berpikir.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Dahulu waktu masih kecil sering mendengar cerita tentang bagaimana akhir yang menentukan segalanya, dimana ahli ibadah karena amalan buruknya di akhir hayatnya malah masuk Neraka, sementara seekor bajingan tengik karena niat baiknya di akhir hidupnya masuklah ke surga.

Baru baru ini mendapat kiriman dari sahabat tentang tentang hal ini, jadi ingat kembali ke masa lalu, dulu waktu mendapat kisah ini saya merasa ada yang aneh/ganjil karena kok sepertinya ada ketidak adilan, sehingga amalan baik si orang baik yang terpeleset di akhir hayatnya di negasikan oleh kelalaian di ujung, sementara amalan buruk si bajingan karena niat baiknya malah dihapus oleh niat baiknya…
(Perhatikan bahwa “niat baik” saja sudah bisa menghapus amalan buruk, sementara amalan baik terhapus oleh amalan buruk).

Hanya saya pada saat itu tidak berani bertanya, karena budaya pendidikan di lingkungan saya dahulu memandang buruk pada murid yang bertanya kepada guru, yang dogmanya adalah Sami’na wa Atho’na (dengarkan dan patuhi), dimana peran akal di kesampingkan, sementara di beri tugas yang kebanyakan isinya adalah hapalan.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Dapat artikel ini sudah beberapa tahun, dan memang 4 tahun terakhir tidak ada yang di posting sama sekali semenjak komputer di rumah wafat. Semoga berkenan…

Ketika sang ibu, yang boleh jadi simbol Bundo Kanduang, melepas anaknya, Malin, pergi merantau, bukan sekadar karena ia ingin anaknya itu menjadi kaya raya ketika kembali. Karena ternyata
kekayaan telah membuatnya lupa, membuka luka pada rahim yang melahirkannya, hingga membuatnya terkutuk menjadi arca.

Pada masa lalu, tradisi merantau negeri Minang ini lebih dibumbui oleh etos dan semangat mencari ilmu. Sebagaimana ada dalam mitologi Datuk Perpatih nan Sabatang, yang konon mengembara hingga Yunani, berguru pada Aristoteles, bahkan menjadi salah satu anggota think tank-nya Aleksander Agung.
Dari semangat dan etos itulah kemudian pulang para “Malin” yang kaya ilmu kaya budaya. Seperti Sjahrir dan Hatta yang negarawan besar, Tan Malaka yang pejuang besar, Chairil Anwar dan Mohammad Yamin yang
sastrawan besar, atau Hamka yang ulama besar. Bukan emas dan uang yang mereka bawa pulang, melainkan karya dan nama besar yang mereka berikan pada Bundo Kanduang.
Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »