Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Juni, 2015

Hampir 20 tahun yang lalu, saya menerima email cerita lucu yang isinya kuang lebih seperti ini, di satu sore di bar yang sepi, datang seorang asing yang kesepian, dia duduk sendiri dan kemudian bartender mengajak berbasa basi dengan sang tamu.

Bartender: Hi Bung, apa profesi mu?

Tamu: Ooowh, saya seorang Logic Thinker.

Bartender: err… Logic apa?!

Tamu: hmm… begini deh saya jelaskan dengan contoh saja, apa kamu punya anjing?

Bartender: Iya.

Tamu: artinya kamu sayang binatang, betul?

Bartender: Iya, betul betul…

Tamu: Karena kamu sayang binatang, maka tentu saja kamu juga sayang sama anak anak, betul?!

Bartender: Iya bener banget.

Tamu: Artinya kamu juga punya anak, iya khan?

Bartender: Supeeer, kok bisa tau?

Tamu: Artinya kamu menikah dan punya istri.

Bartender: Hebat lu orang…

Tamu: artinya kamu bukan Homo.

Bartender: Gilaaaa, bener banget, hebat sekali profesi lu, belajar dimana tuh?

Tamu: Oowh, itu semuanya hanya logika saja, hmm… saya pulang dulu sekarang, bye!

Nggak lama setelah sang tamu pergi, Bossnya bartender datang untuk memeriksa kondisi di bar, langsung di hampiri oleh sang bartender, “Boss, tadi saya ketemu seorang logic thinker, mantap abiss!!!”, si boss terdiam dan menggumam “logic what?”,  “wah susah boss dijelaskan, saya kasih contoh aja deh. Boss punya anjing ga?”. Si boss ngejawab “Nggak, gw alergi sama bulu anjing”, sambil ketawa si si bartender kemudian berujar, “aha!, artinya boss Homo!!!”.

Memang cerita ini untuk hanya untuk lucu lucuan, tetapi yang membekas dari cerita ini adalah bahwa ada salah satu ciri ciri dari Logical Thinker yang jadi benang merah cerita ini, yaitu bahwa sesuai penelitian pa Dokter Karl Albrecht, bahwa berpikir logis itu adalah pola berpikir yang runtun, yaitu bila kita berpikir seperti naik tangga, tiap anak tangga kita pikirkan.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Iklan

Read Full Post »

Baru baru ini melihat ceramah singkat dari salah seorang penceramah/preacher tentang bagaimana seharusnya kita bersikap, bagaimana mengubah kesulitan menjadi ibadah [How to transform hardship into worship].

Kita ingat tentang dongeng masa kecil tentang bagaimana si kelinci mengajak kura kura bertanding lari, dan ternyata yang memenangkan pertandingan adalah kura kura, karena si kelinci terlalu menganggap enteng kura kura dan ketika melihat kura kura jauh tertinggal di belakang, si kelinci malah duduk duduk dahulu santai santai dan kemudian tertidur sehingga di balap oleh sang kura kura.

tortoise hare

Dalam banyak hal, hidup pun seperti ini, tentu ada tujuan yang mesti dicapai dalam waktu tertentu, dan jika kita perhatikan, orang orang yang sukses bukanlah mereka yang paling berbakat, tetapi lebih banyak dari orang orang yang bekerja dengan giat mencapai tujuan hidupnya dan selalu fokus kepada tujuannya, seperti peribahasa yang diajarkan oleh orang orang tua kita dahulu, “dimana ada kemauan, disana ada jalan”. Malangnya kita seringkali berpikir panjang tentang jalan jalan yang hendak digunakan tetapi tidak melangkah satu langkahpun menapaki jalan tersebut. Atau, jika kita sudah melangkah, menapaki jalan, kita akan jadi seperti kelinci dalam kisah diatas, yang terpesona kepada hiasan hiasan di jalan itu sehingga lupa akan tujuan.

Banyak kita lihat orang orang berbakat yang akhirnya menyia nyiakan bakat yang mereka miliki dan merusak hidupnya sendiri, mulai dari atlit sampai artis, dari negarawan sampai agamawan.

Yang paling penting adalah memulai dengan pertanyaan apa tujuan hidup kita? Untuk apa kita bangun dari tidur tiap hari? Menurut saya ini adalah salah satu hal yang paling penting dari banyak hal penting  lainnya dalam hidup kita. Tiap orang perlu menjalani proses ini dimana mereka perlu tahu tujuan hidupnya.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »