Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Selingan’ Category

Kenapa anda begitu sukses dalam mencapai sebagian target anda, tetapi tidak di bagian yag lain? Jika anda tidak yakin kenapa, maka anda tidak sendirian dalam hal ini. Ternyata bahkan orang orang jenius yang sukses pun kesulitan memahami mengapa mereka sukses ataupun gagal. Jawaban standard – bahwa anda dilahirkan dengan bakat tertentu di satu bidang dan tidak ada bakat di bidang lainnya – hanyalah bagian kecil dari teka teki ini. Bahkan, penelitian puluhan tahun pada pencapaian target menunjukkan orang orang yang sukses mencapai target mereka bukan hanya karena siapa mereka, tetapi lebih karena apa yang mereka lakukan.

Berikut ini Sembilan hal yang bisa jadi acuan untuk kita menjadi lebih baik…

Baca Kisah selanjutnya…

Iklan

Read Full Post »

Akhir akhir ini banyak sekali ujaran kebencian yang dasarnya adalah dusta, dan malangnya disebarkan dengan sepenuh hati oleh orang orang yang saleh dan salehah, tetapi yang lebih memprihatinkan buat saya adalah ketika di beritahu bahwa apa yang mereka bawa tidak berdasar fakta, mereka tetap istiqomah.

Apakah anda pernah memperhatikan ketika anda memberikan fakta kepada seseorang yang mana fakta tersebut bertentangan dengan apa yang sangat diyakini olehnya, mereka akan merubah pandangannya? Saya juga belum ketemu eh 🙂. Malah kejadiannya, kalau sudah beriman sepenuh hati pada misalnya kebohongan pada salah satu calon pemimpin lawan, maka ketika disodorkan fakta yang bertentangan dengan keyakinannya, akan tambah menjadi jadi membela keyakinannya tersebut. Nah, saya baru baru ini membaca sifat sifat salah paham ini adalah karena perasaan bahwa iman lah yang sedang di goyang ketika hadir fakta fakta yang bertentangan.

Baca Kisah Selanjutnya…

Read Full Post »

Ingin menulis ini sudah cukup lama, tetapi cukup sulit bagi saya untuk mengungkapkannya, karena bahannya ga ada, dan hanya mengandalkan ingatan saat pelatihan di suatu kota di seberang pulau sumatera.

Walaupun training ini sudah cukup lama, dan pada umumnya daya ingat saya terhadap materi pelatihan maksimum satu bulan, tetapi materi yang satu ini tetap jelas teringat, karena mengingatkan saya kepada cerita Abunawas yang mencari jarum di halaman rumahnya sementara jarumnya jatuh di dalam rumah.

Di siang itu, trainernya memulai dengan bercerita tentang hal yang paling merusak kehidupan manusia menurut beliau adalah marketing dan advertising, tepatnya Iklan. Dia mengisahkan betapa cita citanya waktu lulus SMA adalah punya mobil sport sendiri dan dengan itu dia bisa membawa cewe cewe cantik kencan dan akhirnya dia akan bahagia. Itu gara gara dia melihat iklan rokok di masa kecilnya yang menunjukkan betapa kerennya mereka yang merokok dan dikelilingi wanita wanita cantik macam di film james bond.

Baca tulisan selanjutnya…

Read Full Post »

Minggu lalu mendengarkan lagu pop legendaris melayu di salah satu grup WA yang saya ikuti, dan jadi teringat sempat ikutan training leadership yang agak nyeleneh karena tidak ada materi dan slide power point sama sekali, programnya cukup panjang, hampir setahun walaupun tidak terus menerus, satu hal yang menarik bagi saya adalah ketika ada bahasan tentang judul lagu tadi, hasil dan alasan.

Dalam hidup, kita selalu memiliki salah satu dari dua hal ini. Kita bisa memiliki hasil dari apa yang kita rencanakan – atau kita punya alasan kenapa kita gagal. Alasan kita selalu masuk akal, logis, dan meyakinkan. Kita gunakan alasan ini untuk meyakinkan orang lain – dan kita sendiri – tentang bahwa kegagalan kita mendapatkan hasil bukanlah tanggung jawab kita.

Pertanyaannya, mana yang lebih mudah kita hasilkan, alasan apa hasil? Tentu saja alasan. Alasan selalu lebih mudah didapatkan dibanding hasil karena lebih aman, dan lebih tidak berisiko.

Dan bukan itu saja manfaat alasan, selain hal hal diatas, alasan juga memungkinkan kita menghindari fakta yang mungkin tidak menyenangkan tentang diri kita sendiri.

Misalnya, jika saya terlambat bangun dan datang ke pertemuan telat dari jadwal yang dijanjikan, dan saya punya alasan yang sangat baik, maka saya dapat meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya sebenarnya tidak melanggar ucapan/janji saya. Lalu saya dapat tetap menjaga image diri saya sebagai orang yang ber-integritas, sebagai orang yang dapat dipercaya. Saya tidak perlu menghadapi fakta bahwa saya cedera janji, saya tidak perlu lagi mengakui bahwa saya tidak dapat dipercaya, bahwa ucapan saya tidak bisa diandalkan.

RvR2

Atau misalnya contoh yang lebih halus, jika kita hadir pada suatu rapat lalu hanya duduk diam dan tidak memberikan kontribusi, kita dapat menghadirkan alasan bahwa saya adalah orang yang berkomitmen, dan turut berpartisipasi, sehingga saya bisa menghindari fakta bahwa saya main aman, dan tidak mengambil resiko untuk di tentang pendapatnya.

Dan sekarang, mana yang anda inginkan dalam hidup anda? Hasil yang anda katakan penting dalam hidup anda – atau alasan bahwa anda tidak mencapainya?

Apa yang anda siap korbankan untuk menghasilkan apa yang anda inginkan? Semuanya berpulang pada diri kita sendiri…

Read Full Post »

Hampir 20 tahun yang lalu, saya menerima email cerita lucu yang isinya kuang lebih seperti ini, di satu sore di bar yang sepi, datang seorang asing yang kesepian, dia duduk sendiri dan kemudian bartender mengajak berbasa basi dengan sang tamu.

Bartender: Hi Bung, apa profesi mu?

Tamu: Ooowh, saya seorang Logic Thinker.

Bartender: err… Logic apa?!

Tamu: hmm… begini deh saya jelaskan dengan contoh saja, apa kamu punya anjing?

Bartender: Iya.

Tamu: artinya kamu sayang binatang, betul?

Bartender: Iya, betul betul…

Tamu: Karena kamu sayang binatang, maka tentu saja kamu juga sayang sama anak anak, betul?!

Bartender: Iya bener banget.

Tamu: Artinya kamu juga punya anak, iya khan?

Bartender: Supeeer, kok bisa tau?

Tamu: Artinya kamu menikah dan punya istri.

Bartender: Hebat lu orang…

Tamu: artinya kamu bukan Homo.

Bartender: Gilaaaa, bener banget, hebat sekali profesi lu, belajar dimana tuh?

Tamu: Oowh, itu semuanya hanya logika saja, hmm… saya pulang dulu sekarang, bye!

Nggak lama setelah sang tamu pergi, Bossnya bartender datang untuk memeriksa kondisi di bar, langsung di hampiri oleh sang bartender, “Boss, tadi saya ketemu seorang logic thinker, mantap abiss!!!”, si boss terdiam dan menggumam “logic what?”,  “wah susah boss dijelaskan, saya kasih contoh aja deh. Boss punya anjing ga?”. Si boss ngejawab “Nggak, gw alergi sama bulu anjing”, sambil ketawa si si bartender kemudian berujar, “aha!, artinya boss Homo!!!”.

Memang cerita ini untuk hanya untuk lucu lucuan, tetapi yang membekas dari cerita ini adalah bahwa ada salah satu ciri ciri dari Logical Thinker yang jadi benang merah cerita ini, yaitu bahwa sesuai penelitian pa Dokter Karl Albrecht, bahwa berpikir logis itu adalah pola berpikir yang runtun, yaitu bila kita berpikir seperti naik tangga, tiap anak tangga kita pikirkan.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Kakek saya pernah berkata, manusia itu takut kepada perubahan, bukan pada perubahannya sendiri, tetapi pada dasarnya takut kepada sesuatu yang tidak mereka ketahui. Makanya kebanyakan orang takut kepada malam/gelap dan takut pada mati, karena kita nggak tahu apa yang ada di dalam kegelapan dan juga ga tau apa yang terjadi setelah mati.

Memang kebanyakan dari kita mengaku beriman dan percaya pada kitab suci serta percaya bahwa ada hidup setelah mati, tetapi mayoritas dari kita hanya percaya saja dan tidak sepenuhnya percaya, yaitu percaya dalam ucapan dan pikiran, tetapi di alam bawah sadar kita, kita ragu atau sebenarnya ga percaya, cuman ga berani bilangnya sehingga kebanyakan dari kita takut mati.

Sekarang pertanyaannya, apakah kita perlu merasa takut? Apakah takut itu baik? Saya termasuk orang yang percaya bahwa takut itu penting dan perlu, karena jika kita tidak kenal takut, kecil kemungkinan kita bisa bertahan hidup, takut adalah salah satu mekanisme self-defense untuk kita bisa survive hidup di dunia ini.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Ini adalah cerita tentang seorang professor yang memberikan kuliah terakhir kalinya sebelum dia berpisah selamanya dengan dunia. Bagaimana jika anda di beri tahu bahwa anda hanya punya waktu 6 bulan lagi untuk hidup di dunia ini?

Di universitas Carnegie Mellon (CMU) di Pittsburgh, Pennsylvania, ada sebuah program yang dinamakan “Last Lecture” (Kuliah Terakhir), dimana para professor disana di minta untuk berpikir apa yang paling penting dalam hidup mereka dan kemudian mereka diminta untuk menyampaikan kuliah terakhir tentang tema yang mereka pikirkan tersebut, sebagai warisan mereka untuk anak didiknya.

Kuliah Terakhir, pelajaran kehidupan

Kuliah Terakhir, pelajaran kehidupan

Nah, perkenalkan Randy Pausch, seorang professor Teknologi Komputer dengan spesialisasi di bidang Virtual Reality, Randy adalah seorang ayah dari 3 anak (Dylan 6 Tahun, Logan 3 Tahun, dan bungsu Chloe 2 tahun], Randy di diagnosis terkena Kanker Pankreas, dan di prediksi punya waktu hidup tidak lebih dari 6 bulan.

Sebelum di diagnosa oleh dokter terkena kanker pankreas, kebetulan Randy di undang untuk mengisi acara Kuliah terakhir ini, dan pada saat itu justru Randy tidak terlalu tertarik untuk memberikan mata kuliah ini, tetapi setelah di diagnosa dan di vonis hanya punya waktu sesaat lagi, maka Randy justru menyetujui untuk memberikan mata kuliahnya.

Dia memberi judul mata kuliahnya “bagaimana mencapai mimpi masa kecil mu”, jika anda menduga bahwa dia akan memberikan kuliah tentang bagaimana menghadapi maut, ataupun bicara tentang kematian dan kehidupan setelah meninggal, maka anda jauh meleset, Randy justru memberikan kuliah terkahir tentang bagaimana merayakan dan mensyukuri hidup. Bagaimana membuat hidup lebih bermakna daripada sekedar sebuah siklus biologis.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Older Posts »