Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Selingan’ Category

Beberapa waktu lalu sempat kita bicarakan tentang nilai jiwa kita, antara harga dan nilai. Dimana ditenggarai bahwa kecenderungan dunia modern yang semakin materialistis, dimana segala sesuatu diberikan harga sehingga nilai kehilangan makna. Dan juga tentang dimana ada usaha untuk mengaburkan keinginan dan kebutuhan, yang atas nama keinginan dunia dan seisinya tidak akan bisa memenuhi keinginan seorang anak adam, tetapi atas nama kebutuhan sebenarnya cukup untuk seluruh umat manusia hidup nyaman.

Baru kemarin ini sempat baca artikel tentang suatu hal yang erat kaitannya dengan dua hal diatas, yaitu ada semacam upaya di masyarakat dunia modern yang menyamakan antara kenikmatan dengan kebahagiaan, walaupun sepintas mirip, ternyata ada perbedaan mendasar diantara keduanya, yang berdampak pada cara kita hidup.

Apa sih beda antara kenikmatan dengan kebahagiaan? Dua hal positif tadi seringkali di campur adukkan satu sama lain, padahal perbedaannya sangatlah kontras diantara keduanya.

Menurut bapak Robert Lustig, Kenikmatan itu biasanya; umurnya pendek, bersifat fisik, dialami sendiri, dan dicapai dengan bantuan zat zat eksternal. Sementara Kebahagiaan, biasanya kebalikannya; umurnya lebih panjang, non fisikal, dialami dalam interaksi sosial, serta tidak dapat dicapai melalui zat zat eksternal. Kenikmatan itu sifatnya mengambil, sementara kebahagiaan itu memberi. Kenikmatan itu berdasarkan Dopamine, sementara Kebahagiaan itu berdasarkan Serotonin.

Lalu apa sih yang dimaksud dengan Dopamine dan Serotonin? Lalu buat apa sih kita perlu tahu? Dopamine itu adalah hormon di dalam otak kita yang berfungsi sebagai penghubung antar neuron, Umumnya, molekul kecil ini dilepas saat sebuah saraf terangsang untuk menstimulasi saraf lainnya yang letaknya berdekatan. Serotonin juga mirip seperti dopamine adalah hormon yang berfungsi sebagai pembawa pesan antar jaringan saraf.

Semakin kita mengejar kenikmatan, semakin kita tidak bahagia

Nah, kenapa juga serotonin dan dopamine ini penting adalah karakteristik dopamine yang menurunkan jumlah sel sel reseptornya: maksudnya seperti ini, Dopamine mengirimkan sinyal ke sel sel di otak, lalu anda merasakan kenikmatan, lalu kemudian sel sel itu meredup. Sehingga untuk merasakan kenikmatan berikutnya, anda butuh lebih banyak lagi. Apapun yang membuat kenikmatan akan memicu ketagihan. Sementara Serotonin, tidaklah menekan sel sel penerimanya, sehingga anda tidak akan pernah bisa overdosis untuk kebahagiaan. Tetapi ada satu hal yang menurunkan Serotonin: Dopamine! Artinya, semakin kita mengejar kenikmatan, semakin kita tidak bahagia [sungguh paradox].

Dan semenjak beberapa dekade terakhir, para saudagar besar (dalam usaha menjual barang dagangannya) berusaha mencampuradukkan antara kebahagiaan dan kenikmatan sehingga kita tidak lagi bisa membedakan yang mana diantara mereka. Dampaknya membuat masyarakat secara umum jadi kecanduan dan depresi, serta makin jadi lebih gemuk, lebih mudah sakit, lebih bodoh, dan lebih miskin. Gimana caranya membalikkan keadaan ini adalah dengan memahami ilmu dari dua emosi “positif” ini, bagaimana mereka bereaksi dan bagaimana mereka di kendalikan. Karena jika tidak, mereka yang mengorbankan kebahagiaan untuk mengejar kenikmatan pada ujungnya malah tidak akan mendapatkan keduanya. Referensi:
https://www.fatherly.com/health-science/hacking-of-the-american-mind-robert-lustig-neuromarketing-kids/
https://www.alodokter.com/dopamine

Read Full Post »

Kenapa anda begitu sukses dalam mencapai sebagian target anda, tetapi tidak di bagian yag lain? Jika anda tidak yakin kenapa, maka anda tidak sendirian dalam hal ini. Ternyata bahkan orang orang jenius yang sukses pun kesulitan memahami mengapa mereka sukses ataupun gagal. Jawaban standard – bahwa anda dilahirkan dengan bakat tertentu di satu bidang dan tidak ada bakat di bidang lainnya – hanyalah bagian kecil dari teka teki ini. Bahkan, penelitian puluhan tahun pada pencapaian target menunjukkan orang orang yang sukses mencapai target mereka bukan hanya karena siapa mereka, tetapi lebih karena apa yang mereka lakukan.

Berikut ini Sembilan hal yang bisa jadi acuan untuk kita menjadi lebih baik…

Baca Kisah selanjutnya…

Read Full Post »

Akhir akhir ini banyak sekali ujaran kebencian yang dasarnya adalah dusta, dan malangnya disebarkan dengan sepenuh hati oleh orang orang yang saleh dan salehah, tetapi yang lebih memprihatinkan buat saya adalah ketika di beritahu bahwa apa yang mereka bawa tidak berdasar fakta, mereka tetap istiqomah.

Apakah anda pernah memperhatikan ketika anda memberikan fakta kepada seseorang yang mana fakta tersebut bertentangan dengan apa yang sangat diyakini olehnya, mereka akan merubah pandangannya? Saya juga belum ketemu eh 🙂. Malah kejadiannya, kalau sudah beriman sepenuh hati pada misalnya kebohongan pada salah satu calon pemimpin lawan, maka ketika disodorkan fakta yang bertentangan dengan keyakinannya, akan tambah menjadi jadi membela keyakinannya tersebut. Nah, saya baru baru ini membaca sifat sifat salah paham ini adalah karena perasaan bahwa iman lah yang sedang di goyang ketika hadir fakta fakta yang bertentangan.

Baca Kisah Selanjutnya…

Read Full Post »

Ingin menulis ini sudah cukup lama, tetapi cukup sulit bagi saya untuk mengungkapkannya, karena bahannya ga ada, dan hanya mengandalkan ingatan saat pelatihan di suatu kota di seberang pulau sumatera.

Walaupun training ini sudah cukup lama, dan pada umumnya daya ingat saya terhadap materi pelatihan maksimum satu bulan, tetapi materi yang satu ini tetap jelas teringat, karena mengingatkan saya kepada cerita Abunawas yang mencari jarum di halaman rumahnya sementara jarumnya jatuh di dalam rumah.

Di siang itu, trainernya memulai dengan bercerita tentang hal yang paling merusak kehidupan manusia menurut beliau adalah marketing dan advertising, tepatnya Iklan. Dia mengisahkan betapa cita citanya waktu lulus SMA adalah punya mobil sport sendiri dan dengan itu dia bisa membawa cewe cewe cantik kencan dan akhirnya dia akan bahagia. Itu gara gara dia melihat iklan rokok di masa kecilnya yang menunjukkan betapa kerennya mereka yang merokok dan dikelilingi wanita wanita cantik macam di film james bond.

Baca tulisan selanjutnya…

Read Full Post »

Minggu lalu mendengarkan lagu pop legendaris melayu di salah satu grup WA yang saya ikuti, dan jadi teringat sempat ikutan training leadership yang agak nyeleneh karena tidak ada materi dan slide power point sama sekali, programnya cukup panjang, hampir setahun walaupun tidak terus menerus, satu hal yang menarik bagi saya adalah ketika ada bahasan tentang judul lagu tadi, hasil dan alasan.

Dalam hidup, kita selalu memiliki salah satu dari dua hal ini. Kita bisa memiliki hasil dari apa yang kita rencanakan – atau kita punya alasan kenapa kita gagal. Alasan kita selalu masuk akal, logis, dan meyakinkan. Kita gunakan alasan ini untuk meyakinkan orang lain – dan kita sendiri – tentang bahwa kegagalan kita mendapatkan hasil bukanlah tanggung jawab kita.

Pertanyaannya, mana yang lebih mudah kita hasilkan, alasan apa hasil? Tentu saja alasan. Alasan selalu lebih mudah didapatkan dibanding hasil karena lebih aman, dan lebih tidak berisiko.

Dan bukan itu saja manfaat alasan, selain hal hal diatas, alasan juga memungkinkan kita menghindari fakta yang mungkin tidak menyenangkan tentang diri kita sendiri.

Misalnya, jika saya terlambat bangun dan datang ke pertemuan telat dari jadwal yang dijanjikan, dan saya punya alasan yang sangat baik, maka saya dapat meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya sebenarnya tidak melanggar ucapan/janji saya. Lalu saya dapat tetap menjaga image diri saya sebagai orang yang ber-integritas, sebagai orang yang dapat dipercaya. Saya tidak perlu menghadapi fakta bahwa saya cedera janji, saya tidak perlu lagi mengakui bahwa saya tidak dapat dipercaya, bahwa ucapan saya tidak bisa diandalkan.

RvR2

Atau misalnya contoh yang lebih halus, jika kita hadir pada suatu rapat lalu hanya duduk diam dan tidak memberikan kontribusi, kita dapat menghadirkan alasan bahwa saya adalah orang yang berkomitmen, dan turut berpartisipasi, sehingga saya bisa menghindari fakta bahwa saya main aman, dan tidak mengambil resiko untuk di tentang pendapatnya.

Dan sekarang, mana yang anda inginkan dalam hidup anda? Hasil yang anda katakan penting dalam hidup anda – atau alasan bahwa anda tidak mencapainya?

Apa yang anda siap korbankan untuk menghasilkan apa yang anda inginkan? Semuanya berpulang pada diri kita sendiri…

Read Full Post »

Hampir 20 tahun yang lalu, saya menerima email cerita lucu yang isinya kuang lebih seperti ini, di satu sore di bar yang sepi, datang seorang asing yang kesepian, dia duduk sendiri dan kemudian bartender mengajak berbasa basi dengan sang tamu.

Bartender: Hi Bung, apa profesi mu?

Tamu: Ooowh, saya seorang Logic Thinker.

Bartender: err… Logic apa?!

Tamu: hmm… begini deh saya jelaskan dengan contoh saja, apa kamu punya anjing?

Bartender: Iya.

Tamu: artinya kamu sayang binatang, betul?

Bartender: Iya, betul betul…

Tamu: Karena kamu sayang binatang, maka tentu saja kamu juga sayang sama anak anak, betul?!

Bartender: Iya bener banget.

Tamu: Artinya kamu juga punya anak, iya khan?

Bartender: Supeeer, kok bisa tau?

Tamu: Artinya kamu menikah dan punya istri.

Bartender: Hebat lu orang…

Tamu: artinya kamu bukan Homo.

Bartender: Gilaaaa, bener banget, hebat sekali profesi lu, belajar dimana tuh?

Tamu: Oowh, itu semuanya hanya logika saja, hmm… saya pulang dulu sekarang, bye!

Nggak lama setelah sang tamu pergi, Bossnya bartender datang untuk memeriksa kondisi di bar, langsung di hampiri oleh sang bartender, “Boss, tadi saya ketemu seorang logic thinker, mantap abiss!!!”, si boss terdiam dan menggumam “logic what?”,  “wah susah boss dijelaskan, saya kasih contoh aja deh. Boss punya anjing ga?”. Si boss ngejawab “Nggak, gw alergi sama bulu anjing”, sambil ketawa si si bartender kemudian berujar, “aha!, artinya boss Homo!!!”.

Memang cerita ini untuk hanya untuk lucu lucuan, tetapi yang membekas dari cerita ini adalah bahwa ada salah satu ciri ciri dari Logical Thinker yang jadi benang merah cerita ini, yaitu bahwa sesuai penelitian pa Dokter Karl Albrecht, bahwa berpikir logis itu adalah pola berpikir yang runtun, yaitu bila kita berpikir seperti naik tangga, tiap anak tangga kita pikirkan.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Kakek saya pernah berkata, manusia itu takut kepada perubahan, bukan pada perubahannya sendiri, tetapi pada dasarnya takut kepada sesuatu yang tidak mereka ketahui. Makanya kebanyakan orang takut kepada malam/gelap dan takut pada mati, karena kita nggak tahu apa yang ada di dalam kegelapan dan juga ga tau apa yang terjadi setelah mati.

Memang kebanyakan dari kita mengaku beriman dan percaya pada kitab suci serta percaya bahwa ada hidup setelah mati, tetapi mayoritas dari kita hanya percaya saja dan tidak sepenuhnya percaya, yaitu percaya dalam ucapan dan pikiran, tetapi di alam bawah sadar kita, kita ragu atau sebenarnya ga percaya, cuman ga berani bilangnya sehingga kebanyakan dari kita takut mati.

Sekarang pertanyaannya, apakah kita perlu merasa takut? Apakah takut itu baik? Saya termasuk orang yang percaya bahwa takut itu penting dan perlu, karena jika kita tidak kenal takut, kecil kemungkinan kita bisa bertahan hidup, takut adalah salah satu mekanisme self-defense untuk kita bisa survive hidup di dunia ini.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Ini adalah cerita tentang seorang professor yang memberikan kuliah terakhir kalinya sebelum dia berpisah selamanya dengan dunia. Bagaimana jika anda di beri tahu bahwa anda hanya punya waktu 6 bulan lagi untuk hidup di dunia ini?

Di universitas Carnegie Mellon (CMU) di Pittsburgh, Pennsylvania, ada sebuah program yang dinamakan “Last Lecture” (Kuliah Terakhir), dimana para professor disana di minta untuk berpikir apa yang paling penting dalam hidup mereka dan kemudian mereka diminta untuk menyampaikan kuliah terakhir tentang tema yang mereka pikirkan tersebut, sebagai warisan mereka untuk anak didiknya.

Kuliah Terakhir, pelajaran kehidupan

Kuliah Terakhir, pelajaran kehidupan

Nah, perkenalkan Randy Pausch, seorang professor Teknologi Komputer dengan spesialisasi di bidang Virtual Reality, Randy adalah seorang ayah dari 3 anak (Dylan 6 Tahun, Logan 3 Tahun, dan bungsu Chloe 2 tahun], Randy di diagnosis terkena Kanker Pankreas, dan di prediksi punya waktu hidup tidak lebih dari 6 bulan.

Sebelum di diagnosa oleh dokter terkena kanker pankreas, kebetulan Randy di undang untuk mengisi acara Kuliah terakhir ini, dan pada saat itu justru Randy tidak terlalu tertarik untuk memberikan mata kuliah ini, tetapi setelah di diagnosa dan di vonis hanya punya waktu sesaat lagi, maka Randy justru menyetujui untuk memberikan mata kuliahnya.

Dia memberi judul mata kuliahnya “bagaimana mencapai mimpi masa kecil mu”, jika anda menduga bahwa dia akan memberikan kuliah tentang bagaimana menghadapi maut, ataupun bicara tentang kematian dan kehidupan setelah meninggal, maka anda jauh meleset, Randy justru memberikan kuliah terkahir tentang bagaimana merayakan dan mensyukuri hidup. Bagaimana membuat hidup lebih bermakna daripada sekedar sebuah siklus biologis.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Seperti sudah pernah di bahas sebelumnya, kita tahu bahwa dunia ini penuh tipu daya, dan hidup di dunia yang penuh tipu daya ini tidaklah mudah, kalau kata sodara saya dahulu kala, “mau cari nafkah yang haram saja susah, apalagi yang halal”.

Hal ini benar adanya dengan pertumbuhan jumlah penduduk dan kemerosotan akhlaq hampir di seluruh penjuru dunia, betapa kita lihat semakin banyak orang pintar tetapi tambah sedikit orang bijak (mohon dicatat bahwa saya tidaklah pintar maupun bijak).

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, hidup menjadi lebih nyaman, tetapi ada masalah lain yang timbul adalah, makin banyaknya bayang bayang yang menghalangi kita untuk melihat hakikat dunia, sehingga bisa dibilang jika kehidupan ini adalah ujian, maka soalnya makin lama makin susah, mungkin orang orang dahulu yang lulus dengan nilai baik jika kembali lagi sekarang bisa bisa nggak lulus.

Kenapa bisa berkesimpulan begitu? Karena fakta sederhana yaitu pilihan yang makin banyak, yang artinya sama dengan godaaan yang makin banyak, yang kembali seperti kata sodara ane diatas, sudah nggak jelas lagi bedanya antara yang halal sama yang haram, antara yang baik dan yang buruk, atau seperti yang Al Imam Ali KW katakan bertahun tahun yang lalu:

“Apa yang hendak kukata tentang tempat yang awalnya kesukaran, akhirnya kefanaan, halalnya diperhitungkan dan haramnya diberi balasan. Orang yang berkecukupan di dalamnya akan difitnah dan yang ber kekurangan akan resah. Orang yang mengejarnya selalu luput, dan yang enggan terhadapnya, maka ia akan lulut. Orang yang bercermin padanya akan berpandangan dan yang memandanginya akan buta.”

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Sudah beberapa tahun ini seringkali mendengar kata talent, kata ini menjadi semacam mantra dari teman teman HRD untuk menjelaskan segala sesuatu, walaupun tentu saja levelnya masih sedikit dibawah kata leadership :).

Lalu sampai suatu ketika di akhir bulan Desember saya menemukan sebuah tulisan dari seseorang yang tidak boleh disebut namanya bahwa seseorang itu menjadi besar itu karena disiplin dan talent itu seringkali malah menjadi dalih untuk kegagalan, dimana ni orang mengutip buku ini. Hal ini lah yang membawa saya untuk membaca buku ini dan menyajikan ringkasannya sebatas pemahaman saya.

Awal buku ini di mulai tentang cerita di suatu sore di pertengahan tahun 1978, pada satu ruangan kerja di kantor pusat P&G di Cincinnati, ada 2 pemuda usia 22 tahun baru lulus kuliah yang kerja disana, duduk berseberangan dalam satu ruangan kecil, tugas mereka dalah membantu menjual snack cookies, tetapi mereka kebanyakan menghabiskan waktu untuk duduk di ruangan  mengetik memo internal mengikuti aturan perusahaan yang ketat. Mereka adalah pemuda yang cerdas, yang satu lulusan Harvard dan yang satu lagi dari Dartmouth, tetapi nggak cerdas cerdas amat hingga membedakan mereka dengan ratusan karyawan baru P&G yang lain. Yang membedakan mereka berdua dengan rekan rekannya adalah mereka nggak terlalu berambisi, dua duanya gak punya rencana karir atau target karir/jabatan. Tiap sore mereka main basket dengan kertas bekas dan keranjang sampah. Salah satu dari mereka di kemudian hari berkata “kami berdua di nobatkan menjadi 2 orang yang paling kecil kemungkinannya untuk sukses”.

Dua orang ini menarik perhatian kita sekarang adalah hanya karena satu hal: Mereka adalah Jeffrey Imelt dan Steven Ballmer, yang sebelum usia 50 tahun menjadi CEO dari salah satu perusahaan terbesar di dunia, yaitu General Electric dan Microsoft. Berlawanan dengan ekspektasi orang orang pada waktu mereka masih fresh graduate. Mereka mencapai puncak karir korporasi, dan pertanyaan utamanya adalah jelas, How?

Baca tulisan lengkapnya…

Read Full Post »

Dahulu waktu masih kecil sering mendengar cerita tentang bagaimana akhir yang menentukan segalanya, dimana ahli ibadah karena amalan buruknya di akhir hayatnya malah masuk Neraka, sementara seekor bajingan tengik karena niat baiknya di akhir hidupnya masuklah ke surga.

Baru baru ini mendapat kiriman dari sahabat tentang tentang hal ini, jadi ingat kembali ke masa lalu, dulu waktu mendapat kisah ini saya merasa ada yang aneh/ganjil karena kok sepertinya ada ketidak adilan, sehingga amalan baik si orang baik yang terpeleset di akhir hayatnya di negasikan oleh kelalaian di ujung, sementara amalan buruk si bajingan karena niat baiknya malah dihapus oleh niat baiknya…
(Perhatikan bahwa “niat baik” saja sudah bisa menghapus amalan buruk, sementara amalan baik terhapus oleh amalan buruk).

Hanya saya pada saat itu tidak berani bertanya, karena budaya pendidikan di lingkungan saya dahulu memandang buruk pada murid yang bertanya kepada guru, yang dogmanya adalah Sami’na wa Atho’na (dengarkan dan patuhi), dimana peran akal di kesampingkan, sementara di beri tugas yang kebanyakan isinya adalah hapalan.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Bapak Sydney Finklestein melakukan riset terhadap ambruknya perusahaan perusahaan besar dan apa penyebabnya, hasil dari penelitian beliau ternyata terdapat gambaran umum dari penyebab ambruknya perusahaan perusahaan ini. Dan salah satu dari gambaran umum itu adalah pemimpin perusahaan tersebut memiliki kebiasaan kebiasaan yang berbahaya.

 

Hampir semua pemimpin yang membawa perusahaannya ambruk memiliki kepribadian yang unik, ramah, mengesankan, memiliki daya tarik yang tinggi serta selalu memberikan inspirasi kepada orang orang di sekitarnya.

 

Tetapi dari semua para pemimpin ini, mereka memiliki 5 sampai 6 dari kebiasaan kebiasaan berikut ini, dan akan bermanfaat buat kita jika kita dapat mengenali kebiasaan kebiasaan ini, sehingga kita dapat melakukan sesuatu jika ada pemimpin kita yang menunjukkan kebiasaan ini.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Pertama kali dapat buku ini sekitar 2 tahun yang lalu, waktu itu teman merekomendasikan buku ini, akhirnya jadi tertarik dan ikutan beli, bukunya sendiri tipis, tapi tips tips yang di buku ini sangat bermanfaat buat saya pribadi, makanya jadi ingin turut membagi tips tips yang ada di buku ini.

Mengapa oh mengapa?

  • Apakah anda mulai merasa kesulitan mengendalikan perilaku anak anda?
  • Apakah anda dan pasangan sering nggak sepaham dalam mendidik anak anak?
  • Apakah anak anda sering merengek dan maksa untuk dituruti kemauannya?
  • Apakah anak anda sering berantem satu sama lain?
  • Apakah anda kesulitan karena anak anda selalu nonton tv atau maen ps?

Jika anda menjawab ya dari salah satu pertanyaan diatas, maka ada baiknya baca tips tips dibawah ini. Berikut ini adalah tips tips dari buku Ayah Edy ini.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Pada akhir bagian II, kita akan membicarakan tentang apa plus dan minusnya jika anda mendadak kaya. Tetapi sebelum kita sampai kesana, ada sedikit yang ingin saya sampaikan. Ada yang bilang bahwa pada bagian II, saya lebih menekankan peran media sebagai pembuat manusia menjadi tidak bahagia, dan melupakan bahwa sebenarnya manusia sendirilah yang merupakan penentu kebahagiaan masing masing, seperti kata Gandhi “The world is enough for everyone’s need, but not for someone’s greed”.

Oleh karena itu, saya mohon maaf kalau sampe timbul kesan bahwa saya lebih menekankan peran media dan melupakan peran individu, karena sebenarnya saya sendiri pun menyadari bahwa penyakit yang bikin manusia ga bisa bahagia dan kedamaian sulit ditemui itu cuman satu, tapi obatnya belum ditemukan sampai sekarang adalah Greed/Tamak.

Alasan saya menyampaikan peran media di tulisan sebelumnya adalah karena 3 hal, yaitu:

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Pada akhir bagian I, saya mengatakan tentang peran media untuk membuat kesan bahwa pilihan satu satunya agar dapat bahagia adalah bagaimana mendapatkan uang sebanyak banyaknya, lalu membelanjakannya untuk mengejar kebahagiaan yang selalu mengelak itu. Sehingga kegiatan nyata yang terbukti bikin kita bahagia malah kita tinggalkan, [Seperti maen sama anak, nongkrong bareng, mancing bareng temen temen, etc].

Inilah sebenarnya yang ditutupi oleh media dari mata kita, semua berpusat pada uang, “kalo mau seneng, lo mesti kaya!” whatever the way, yang penting kaya, titik!. Emang nggak secara terang terangan, tapi seperti bisikan nina bobo dari neraka yang menggiring kita untuk menyembah pengumpulan kekayaan dan penghamburannya di mall mall dan pusat perbelanjaan. Bagaimana dengan negara kita Indonesia? Bisa dilihat disini.

Baca Tulisan Selengkapnya

Read Full Post »

Older Posts »