Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2015

Tidak ada kata yang diperlukan untuk membawakan kabar. Suara jerit tangis sudah cukup untuk memberi tahu. Pertama tama Aisyah, lalu kemudian di ikuti istri istri nabi yang lain menangis histeris, rasa sakit dan sedih yang sangat mengoyak hati, di luar batas nalar manusia biasa, dan itu menyebar ke seluruh kota dengan kecepatan supersonik.

Semua orang, laki laki maupun perempuan, tua maupun muda, mereka menangis dan histeris di tinggal sang insan kamil. Mereka menampar wajah mereka sendiri dengan kedua tangan, dan memukul dada mereka, mereka mengambil debu dari tanah dan menaburkannya ke atas kepala mereka, mereka semua bersedih.

Ini adalah budaya duka disana, dan budaya ini masih dapat di jumpai pada saat peringatan Asyura di seantero timur tengah, ketika ummat Islam memperingati pembantaian Husain ibn Ali oleh Yazid ibn Muawiyah. Ini adalah ekspresi duka karena ditinggal sang kekasih, bukan saja untuk dia yang meninggalkan, tetapi juga untuk mereka sendiri yang ditinggalkan, tanpa pemimpin, tanpa dia.

Baca Kisah Selanjutnya…

Iklan

Read Full Post »

BAB IV

Bibit perpecahan telah tertanam, Istri Nabi, Mertua, Menantu, Sepupu, Anak, Ipar, dan Pembantu, semuanya akan terlibat dalam akar akar yang akan muncul dari bibit ini. Tetapi pada saat Rasulullah terbaring sakit, istri istri beliau lah yang memiliki kuasa, adalah mereka yang senantiasa menjaga dan menunggu di kamar Aisyah. Dan mereka yang menentukan apakah nabi cukup sehat untuk menerima tamu/pengunjung atau sedang istirahat sehingga sahabat terdekat pun bisa di tolak.

Perdebatan diantara istri istri nabi itu pun sampai kepada apa obat yang tepat diberikan kepada nabi, atau malah tidak usah diberikan obat sama sekali. Dan seiring dengan melemahnya kondisi nabi, perdebatan ini makin menjadi, terlebih untuk menentukan siapa yang boleh membesuk.

Beberapa kali ketika Nabi cukup kuat untuk menentukan sendiri siapa yang ingin dia temui, mereka juga berdebat dengannya. Pernah Nabi meminta untuk dipanggilkan Ali, yang pada waktu itu seringkali menghabiskan waktunya di Masjid untuk belajar dan berdoa, tetapi Aisyah malah me-lobby untuk ayahnya saja “Apakah tidak lebih baik engkau ketemu dengan Abu Bakar?” ujarnya. Dan Hafsah juga ikut berkomentar dengan mengusulkan ayahnya sendiri “Mungkin engkau lebih baik ketemu Umar?” tanyanya. Kewalahan dengan desakan mereka, Rasulullah mengalah, akhirnya Abu Bakar dan Umar dipanggil, sementara Ali tidak.

Baca kisah selanjutnya…

Read Full Post »

Bab 3

Para penganut madzhab Syiah, tidak terlalu ketat dalam visualisasi figur figur penting seperti saudara saudaranya dari madzhab Sunni. Dari kios kios di pinggir jalan dan pedagang pedagang kaki lima, dari Lebanon sampai India, lukisan lukisan itu menampakkan bukan gambar anak muda, tetapi laki laki ganteng di usia 40 tahunan. Rahangnya jelas dengan janggut yang di potong rapi, dengan alis tebal dan bola mata hitam yang memandang tegas, hampir hampir orang orang nasrani akan mengira gambar itu adalah versi gambar Jesus yang maskulin dan gagah.

Imam Ali menurut Madzhab Syiah

Imam Ali menurut Madzhab Syiah

Laki laki ini sering kali digambarkan membawa pedang, kadang digenggam, kadang di selempangkan dibelakang punggung, kadang di letakkan di pangkuannya. Pedang ini lebih terkenal di dunia Islam melebihi pedang Excalibur milik King Arthur di dunia Kristen. Dan mirip seperti Excalibur, pedang ini juga dilengkapi kemampuan supernatural, dan tentunya punya nama sendiri: Zulfikar, artinya “yang membelah”, dan juga di artikan sebagai yang membelah tulang punggung.

Baca kisah selanjutnya…

Read Full Post »

Bab 2

Kalung itu bukanlah kalung sembarang kalung, walaupun memang mudah untuk berpikir bahwa itu adalah kalung biasa, karena tidak ada yang aneh dari kalung tersebut. Kalung itu bisa jadi kumpulan batu batu biasa, atau juga kerang laut, Aisyah tidak pernah cerita, mungkin karena detailnya tidaklah penting. Bisa jadi dia benar, dan cukup bagi kita bahwa kalung itu adalah kalung umum yang biasa dipakai wanita muda pada umumnya, dan dijaga dengan sangat hati hati seakan akan kalung itu terbuat dari berlian terbaik, karena kalung ini adalah hadiah dari Rasulullah Muhammad SAW di hari pernikahannya.

Hilangnya kalung itu dan gossip yang tersebar kemudian akan disebut sebagai tragedi kalung, seperti judul cerita dari mulut mulut yang memang populer di zaman itu, dimana sejarah awalnya berasal dari cerita mulut ke mulut seperti ini, sebelum zaman penerbitan buku dan budaya baca tulis.

Ahlul Kisa, episode pena dan kertas, Perang Jamal, Malam Lolongan Anjing, semua episode ini akan menjadi bagian awal sejarah Islam. Ini adalah sejarah yang dikisahkan bagai cerita, yang dengan detail menggambarkan apa yang terjadi. Untuk beberapa ratus tahun pertama Islam, cerita ini tidak hidup di dalam buku, melainkan tersimpan dalam lidah lidah mereka yang mendengarnya dan kemudian menceritakannya kembali.

Baca kisah selanjutnya…

Read Full Post »

Bab 1

Jika ada satu momen darimana semua ini berawal, maka dapat dikatakan bahwa awalnya adalah pada saat wafatnya Rasul. Bahkan Rasulullah SAW pun tidak bisa menghindari maut, dan disitulah letak permasalahannya. Sepertinya tidak ada yang memperhitungkan kemungkinan bahwa Rasul akan wafat.

Apakah beliau tahu bahwa maut datang mendekat? Tentunya beliau tahu, dan tentunya mereka di sekitarnya pun tahu, tetapi sepertinya tidak ada yang mau mengakuinya. Rasulullah berusia 63 tahun pada saat itu, dimana usia 63 tahun tergolong panjang pada masanya. Beliau ikut beberapa kali peperangan dan selamat dari paling tidak 3 kali usaha pembunuhan yang terekam sejarah. Barangkali orang orang terdekatnya tidak menduga bahwa hanya penyakit akan membawa maut kepadanya karena beliau selamat dari berbagai upaya jahat sebelumnya, apalagi sekarang seluruh Arab telah ada dibawah panji panji Islam. Orang orang yang dahulu memusuhinya, yang dahulu berusaha membunuhnya, sekarang malah duduk di jajaran sahabatnya. Perdamaian telah dibentuk, ummat telah bersatu. Ini bukan lagi fajar dari era baru, tapi sudah masuk ke pagi hari dan matahari bersinar cerah, di hari yang penuh harapan.

Baca kisah selanjutnya…

Read Full Post »

Dapat buku ini beberapa bulan yang lalu, and sebelumnya agak malas membacanya karena saya pikir sejarah tidaklah menarik, toh sudah pernah belajar sejarah di sekolah dulu dan seperti biasa ujung ujungnya tergantung siapa yang membawakan ceritanya… [History written by the victors, katanya].

Tetapi membaca buku ini membuat saya berpikir ulang, bahwa jika kita (saya) menarik diri untuk tidak bias, maka banyak hal yang bisa saya petik.

Buku ini sendiri mencoba membawakan kisah lahirnya 2 madzhab besar dalam Islam, Sunnah dan Syiah dengan Objektif, walaupun rujukan utamanya berasal dari At Thabari yang notabene Sunni.

AtP1

Yang bikin saya tertarik narok disini adalah karena sekarang banyak banget fitnah berseliweran di lingkungan saya, dimana kebencian dan hasutan menjadi menu sehari hari orang orang salih, tanpa tau apa yang mereka bicarakan.

Kita mulai saja kisah epik ini…

Read Full Post »