Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2016

Di pagi hari tanggal 9 September tahun 680, rombongan kecil berangkat pergi dari Mekkah, [pada waktu itu sedang musim haji], rombongan itu berangkat menuju Irak, dan pemimpinnya adalah Husayn putra Ali. Sudah sembilan tahun berlalu sejak dia dan abangnya, Hasan, menguburkan ayah mereka di tanah gersang di luar kota Kufah, dan kemudian berjalan pulang menuju dataran tinggi Hijaz. Husayn menunggu dengan kesabaran yang tak terperi sementara Muawiyah memperkuat pengaruh dan kekuasaannya, tetapi sekarang penantian telah usai, Muawiyah sudah mati, dan Husayn bertekad untuk mengembalikan kepemimpinan Islam ke jalur yang benar, ke Ahlul Bayt Nabi. Perpecahan yang dimulai dengan wafatnya Nabi, dan terbentuk pada figur Ali, sekarang mencapai generasi ke tiga. Dan sekarang akan semakin membekas dengan suatu tragedi yang melukai Islam sampai ke sumsumnya, dan akan terus membekas hingga berabad-abad mendatang.

Husayn sekarang di usia pertengahan lima puluhan, dan jelas terlihat. Janggutnya sudah terlihat beruban sebagian, dengan keriput tulang pipinya yang menggambarkan perjuangan. Walaupun begitu, poster poster yang memenuhi pasar pasar di Irak dan Iran sekarang ini menggambarkan sosok pria yang sangat gagah dan tampan di usia pertengahan tiga puluhan. Dengan rambut hitam panjang sampai ke bahu, dan janggut yang hitam dan lembut, tanpa adanya satu pun uban yang terlihat. Wajahnya terlihat bersih bercahaya, binar matanya yang gelap dan sejuk memancarkan kesedihan sekaligus ketegaran, seakan akan mata itu pernah melihat hal yang paling sedih sekaligus paling membahagiakan di dunia ini.

Baca Kisah Selanjutnya…

Read Full Post »

Pasukan Imam Ali memulai perjalanan kembali mereka ke Kufah dengan moral yang rendah, dan perasaan yang bercampur antara marah dan gelisah. Banyak dari mereka sekarang yang menyesal karena telah menerima kesepakatan perundingan dengan Muawiyah di Shiffin. Bisa jadi mereka sekarang baru menyadari mereka kena jebakan betmen, dan iman mereka di gunakan melawan mereka, karena yang paling kecewa justru adalah mereka yang paling ngotot untuk meletakkan senjata ketika melihat lembaran lembaran Qur’an di lekatkan ke ujung ujung tombak pasukan berkuda Muawiyah.

Dan karena sekarang Muawiyah sudah kembali berada di istana hijaunya di Damaskus, maka mereka melampiaskan kekecewaan mereka pada orang yang membawa mereka ke Shiffin pertama kali.

Menyalahkan Ali atas sesuatu yang mereka sendiri memaksa Ali melakukannya [sungguh kalau kata orang betawi, muna atau yuni], mereka akan berubah menjadi bentuk musuh yang baru, bukan berasal dari Mekkah atau dari Syria, tetapi dari pendukungnya sendiri – dan musuh yang lebih berbahaya karena orang orang ini dibakar bukan oleh nafsu duniawi, tetapi oleh berhala dalam diri, yang merasa benar sendiri dan paling suci, sehingga akal sudah tidak lagi berfungsi, inilah mereka yang sekarang dikenal dengan julukan kaum takfiri, dan pada masa itu, mereka di kenal sebagai khawarij.

Baca Kisah Selanjutnya…

Read Full Post »