Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Ekonomi & Politik’ Category

Baru baru ini membaca postingan dari beberapa sahabat tentang bagaimana kemiskinan itu adalah buah dari yang tumbuh dari pohon kemalasan dan kebodohan.

Intinya, hanya orang malas dan bodoh yang miskin, jika saja mereka mau bekerja keras dan berusaha, tidak akan miskin. Terus terang saya agak kaget, membaca tulisan ini, yang walaupun di kemas dengan bahasa yang apik, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal ketika mencernanya.

Ada dua kiriman dari sahabat-sahabat itu, yang pertama adalah artikel yang mengambil dari buku Tom Corley, seorang penulis yang katanya melakukan survey selama bertahun tahun tentang kebiasaan orang kaya dan orang miskin, lalu kemudian dia menuliskannya dalam sebuah buku, kebiasaan orang kaya yang tidak dimiliki oleh orang miskin itu di tuliskannya dalam daftar yang cukup panjang, dan banyak yang ga nyambung, misalnya 80% orang kaya ngucapin selamat ulang tahun, dibanding orang miskin yang hanya 11% [lha, gimana mau ngucapin selamat ulang tahun. Kalau lahirnya aja nggak tahu kapan…], atau orang kaya lebih banyak yang gosok gigi dibanding orang tak punya, berikut sebagian dari daftar kebiasaan orang kaya yang tidak dimiliki orang miskin menurutnya;

Baca tulisan selengkapnya…

Iklan

Read Full Post »

Hampir 20 tahun yang lalu, saya menerima email cerita lucu yang isinya kuang lebih seperti ini, di satu sore di bar yang sepi, datang seorang asing yang kesepian, dia duduk sendiri dan kemudian bartender mengajak berbasa basi dengan sang tamu.

Bartender: Hi Bung, apa profesi mu?

Tamu: Ooowh, saya seorang Logic Thinker.

Bartender: err… Logic apa?!

Tamu: hmm… begini deh saya jelaskan dengan contoh saja, apa kamu punya anjing?

Bartender: Iya.

Tamu: artinya kamu sayang binatang, betul?

Bartender: Iya, betul betul…

Tamu: Karena kamu sayang binatang, maka tentu saja kamu juga sayang sama anak anak, betul?!

Bartender: Iya bener banget.

Tamu: Artinya kamu juga punya anak, iya khan?

Bartender: Supeeer, kok bisa tau?

Tamu: Artinya kamu menikah dan punya istri.

Bartender: Hebat lu orang…

Tamu: artinya kamu bukan Homo.

Bartender: Gilaaaa, bener banget, hebat sekali profesi lu, belajar dimana tuh?

Tamu: Oowh, itu semuanya hanya logika saja, hmm… saya pulang dulu sekarang, bye!

Nggak lama setelah sang tamu pergi, Bossnya bartender datang untuk memeriksa kondisi di bar, langsung di hampiri oleh sang bartender, “Boss, tadi saya ketemu seorang logic thinker, mantap abiss!!!”, si boss terdiam dan menggumam “logic what?”,  “wah susah boss dijelaskan, saya kasih contoh aja deh. Boss punya anjing ga?”. Si boss ngejawab “Nggak, gw alergi sama bulu anjing”, sambil ketawa si si bartender kemudian berujar, “aha!, artinya boss Homo!!!”.

Memang cerita ini untuk hanya untuk lucu lucuan, tetapi yang membekas dari cerita ini adalah bahwa ada salah satu ciri ciri dari Logical Thinker yang jadi benang merah cerita ini, yaitu bahwa sesuai penelitian pa Dokter Karl Albrecht, bahwa berpikir logis itu adalah pola berpikir yang runtun, yaitu bila kita berpikir seperti naik tangga, tiap anak tangga kita pikirkan.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Sering kali timbul pertanyaan dalam hati, kenapa dengan kemajuan teknologi dan pembangunan, orang sekarang perilakunya tidak menjadi lebih baik, jika kita perhatikan kota kota besar Nusantara, kita akan dapati kebanyakan penduduk kota sudah tidak lagi peduli pada sesama, bahkan ada gerakan yang anti orang miskin, dimana pengemis dan gelandangan akan di usir dan di beri label sebagai manusia manusia malas, sementara mereka berbondong bondong menghabiskan uang mereka di mall mall belanja hal hal yang tidak mereka butuhkan, sungguh saya muak dengan “mereka yang masih bisa tertawa sementara korban merintih di kedua kakinya…”

Dulu ketika saya masih kecil dan tinggal di kota besar, saya dapati manusianya lebih toleran kepada sesama, sudah menjadi norma umum bahwa jika kita naik bis kota dan kita dapati ada wanita yang baru naik, maka para pria akan segera berdiri menyediakan tempat duduknya untuk kaum wanita, sementara jika kita sekarang naik bis kota atau bus way, kita akan dapati jika ada ibu ibu hamil gendong anak naik bus sementara bangku sudah penuh dan yang duduk adalah pemuda dan bapak bapak, semuanya akan cuek dan sebagiannya akan pura pura tidur.

Kenapa masyarakat di kota besar (terutama) menjadi semakin egois dan akhlaqnya jadi tambah buruk (buang sampah sembarangan, nggak mau antri, mudah marah, selalu terburu buru, sering mengeluh, malas kerja, suka bohong, nggak peduli sama orang, hasud, tamak, dan lain sebagainya)?

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Beberapa hari yang lalu dapat text message tentang good governance prinsip yang berasal dari surat Imam Ali kepada Gubernur Mesir yang di tunjuk beliau. Berikut ini terjemahan bebasnya saya lampirkan karena saya pikir sangat bagus untuk dilewatkan, dan bisa jadi ini lah prinsip tentang good governance pertama kali di dunia.

Imam Ali a.s., khalifah ke empat, sepupu dan menantu Rasulullah SAW, menulis surat yang berisi panduan untuk Malik Al Asytar sebagai gubernur Mesir.  Beliau berkata bahwa sebagai gubernur, anda hanya akan sukses apabila mengelola pemerintahannya dengan memperhatikan prinsip keadilan, kesetaraan, kejujuran, dan kemamkmuran untuk semua rakyatnya.

Penggalan surat berikut ini menunjukkan betapa kata kata Imam Ali tidak lekang dimakan waktu. Surat ini sendiri terdapat di Nahjul Balagha, dan bisa di dapatkan di toko toko buku terdekat di kota anda.

Manifestasi Toleransi Beragama: Rakyat dalam kekuasaan mu akan terdiri dari dua macam, mereka yang se-agama dengan kamu, dimana mereka adalah saudara-mu, dan mereka yang tidak se-agama dengan kamu, dimana mereka adalah sama sama manusia yang sama seperti kamu. Dua duanya punya kelemahan seperti manusia pada umumnya, dimana mereka cenderung untuk berbuat dosa, terlibat dalam maksiat entah karena disengaja atau karena kebodohan dan ketidak tahuan bahwa akibat dari tindakan mereka sangat besar. Maka berikanlah kasih dan sayang mu untuk menyelamatkan mereka sama seperti kamu berharap rahmat dan ampunan Allah kepada mu.

Baca Tulisan Lengkapnya…

Read Full Post »

Dapat artikel ini sudah beberapa tahun, dan memang 4 tahun terakhir tidak ada yang di posting sama sekali semenjak komputer di rumah wafat. Semoga berkenan…

Ketika sang ibu, yang boleh jadi simbol Bundo Kanduang, melepas anaknya, Malin, pergi merantau, bukan sekadar karena ia ingin anaknya itu menjadi kaya raya ketika kembali. Karena ternyata
kekayaan telah membuatnya lupa, membuka luka pada rahim yang melahirkannya, hingga membuatnya terkutuk menjadi arca.

Pada masa lalu, tradisi merantau negeri Minang ini lebih dibumbui oleh etos dan semangat mencari ilmu. Sebagaimana ada dalam mitologi Datuk Perpatih nan Sabatang, yang konon mengembara hingga Yunani, berguru pada Aristoteles, bahkan menjadi salah satu anggota think tank-nya Aleksander Agung.
Dari semangat dan etos itulah kemudian pulang para “Malin” yang kaya ilmu kaya budaya. Seperti Sjahrir dan Hatta yang negarawan besar, Tan Malaka yang pejuang besar, Chairil Anwar dan Mohammad Yamin yang
sastrawan besar, atau Hamka yang ulama besar. Bukan emas dan uang yang mereka bawa pulang, melainkan karya dan nama besar yang mereka berikan pada Bundo Kanduang.
Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Bapak Sydney Finklestein melakukan riset terhadap ambruknya perusahaan perusahaan besar dan apa penyebabnya, hasil dari penelitian beliau ternyata terdapat gambaran umum dari penyebab ambruknya perusahaan perusahaan ini. Dan salah satu dari gambaran umum itu adalah pemimpin perusahaan tersebut memiliki kebiasaan kebiasaan yang berbahaya.

 

Hampir semua pemimpin yang membawa perusahaannya ambruk memiliki kepribadian yang unik, ramah, mengesankan, memiliki daya tarik yang tinggi serta selalu memberikan inspirasi kepada orang orang di sekitarnya.

 

Tetapi dari semua para pemimpin ini, mereka memiliki 5 sampai 6 dari kebiasaan kebiasaan berikut ini, dan akan bermanfaat buat kita jika kita dapat mengenali kebiasaan kebiasaan ini, sehingga kita dapat melakukan sesuatu jika ada pemimpin kita yang menunjukkan kebiasaan ini.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Kakek buyut saya pernah berkata: “Ilmu itu jika dibagi akan bertambah…”

Saya punya teman yang selalu bilang, “buat apa bayar mahal kalau bisa dapet yang barang yang kualitasnya sama dengan harga yang lebih murah?”, dan ada juga teman saya satu lagi yang paling anti membeli dan memakai produk bajakan.

Sementara jika kita melihat bagan/gambar diatas maka akan kita dapati kenapa begitu banyak orang yang membeli produk bajakan, bukan hanya karena harganya murah, tetapi segudang sebab lainnya, sebanyak ironi yang tercermin.

Nah melihat 2 orang yang duduk di bangku sekolah yang sama sampai memiliki pendapat yang bertentangan 180 derajat ini, jadi tertarik untuk mengkaji lebih jauh.

Ditambah lagi, baru baru ini abis baca artikel mengenai sekumpulan professor di Harvard yang mematenkan ilmu mereka agar para muridnya tidak boleh menyebarkan ilmu yang mereka peroleh di kelas tanpa se-izin dari si Prof.  Jadinya tertarik untuk ngebahas masalah Hak Atas Kekayaan Intelektual [HAKI] yang belakangan ini mulai banyak dibahas di tanah air.

Baca Tulisan Selengkapnya…

Read Full Post »

Older Posts »