Feeds:
Pos
Komentar

Minggu lalu mendengarkan lagu pop legendaris melayu di salah satu grup WA yang saya ikuti, dan jadi teringat sempat ikutan training leadership yang agak nyeleneh karena tidak ada materi dan slide power point sama sekali, programnya cukup panjang, hampir setahun walaupun tidak terus menerus, satu hal yang menarik bagi saya adalah ketika ada bahasan tentang judul lagu tadi, hasil dan alasan.

Dalam hidup, kita selalu memiliki salah satu dari dua hal ini. Kita bisa memiliki hasil dari apa yang kita rencanakan – atau kita punya alasan kenapa kita gagal. Alasan kita selalu masuk akal, logis, dan meyakinkan. Kita gunakan alasan ini untuk meyakinkan orang lain – dan kita sendiri – tentang bahwa kegagalan kita mendapatkan hasil bukanlah tanggung jawab kita.

Pertanyaannya, mana yang lebih mudah kita hasilkan, alasan apa hasil? Tentu saja alasan. Alasan selalu lebih mudah didapatkan dibanding hasil karena lebih aman, dan lebih tidak berisiko.

Dan bukan itu saja manfaat alasan, selain hal hal diatas, alasan juga memungkinkan kita menghindari fakta yang mungkin tidak menyenangkan tentang diri kita sendiri.

Misalnya, jika saya terlambat bangun dan datang ke pertemuan telat dari jadwal yang dijanjikan, dan saya punya alasan yang sangat baik, maka saya dapat meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya sebenarnya tidak melanggar ucapan/janji saya. Lalu saya dapat tetap menjaga image diri saya sebagai orang yang ber-integritas, sebagai orang yang dapat dipercaya. Saya tidak perlu menghadapi fakta bahwa saya cedera janji, saya tidak perlu lagi mengakui bahwa saya tidak dapat dipercaya, bahwa ucapan saya tidak bisa diandalkan.

RvR2

Atau misalnya contoh yang lebih halus, jika kita hadir pada suatu rapat lalu hanya duduk diam dan tidak memberikan kontribusi, kita dapat menghadirkan alasan bahwa saya adalah orang yang berkomitmen, dan turut berpartisipasi, sehingga saya bisa menghindari fakta bahwa saya main aman, dan tidak mengambil resiko untuk di tentang pendapatnya.

Dan sekarang, mana yang anda inginkan dalam hidup anda? Hasil yang anda katakan penting dalam hidup anda – atau alasan bahwa anda tidak mencapainya?

Apa yang anda siap korbankan untuk menghasilkan apa yang anda inginkan? Semuanya berpulang pada diri kita sendiri…

Berhala dunia modern

Ingin menulis tentang tema ini setelah melihat pengajian dengan ustadz yang mirip banget sama Samuel L Jackson. [Asli sampai sampai sempet mengira dia masuk Islam dang ganti nama jadi Osamuel Bin Jackson].

saf

Ustadz Hanif memulai ceramahnya dengan membawakan kisah tentang berhala dan definisinya dalam Islam, dan apa yang menjadi arti kata illah dalam kalimat tauhid, yang kemudian di zaman sekarang oleh teman teman wahabi banyak di artikan sebagai patung patung, dan sampai sampai peninggalan sejarah juga dihancurkan oleh mereka dengan dalih memberantas berhala dan menegakkan tauhid.

hjjh

Kata illah dalam kalimat tauhid menurut beliau adalah poros/engsel dimana hidup kita berputar padanya, makanya kalau kata orang bule, orang gila itu disebut juga unhinged, karena dia hidup kehilangan pegangan/poros.

Siapapun dia, entah atheist maupun orang beriman, membutuhkan tema sentral (point of references) dalam hidupnya, dan kadang kadang lebih dari satu, dimana dia dapat mengevaluasi dirinya sendiri, dan bisa mengatakan bahwa saya orang baik atau buruk, bahwa jalan ini yang benar dan yang itu salah. Saya adalah saya hari ini karena tema sentral dimana hidup saya berporos ini, dan tema sentral tempat hidup kita berporos itulah tuhan kita, kadang kadang kita butuh beberapa macam “tuhan” ini, kadang kita butuh tuhan untuk pekerjaan kita, kadang untuk kehidupan pribadi, kadang untuk anak anak dan keluarga. Dan tuhan tuhan dalam hidup kita ada memiliki  tingkatan tingkatan, tuhan anda bisa ego anda sendiri, bisa kendaraan anda, bisa anak anda, bisa pekerjaan anda, ataupun bisa juga ideologi.

Ketika kita mengucapkan “La ilaha illALLAH”, itu artinya kita berikrar untuk menolak semua tuhan tuhan kecil tadi karena hal itu menjadi penghalang antara kita dengan Allah.

Dan yang perlu kita ketahui sekarang ini adalah apa saja berhala di zaman modern ini? Dan ini juga yang teman teman wahabi kita mendapatkan kesulitan, karena mereka terjebak ke stereotyping menerjemahkan tuhan dengan t kecil ini sebagai patung patung, sampai museum di kota mosul di hancurkan sampe bersih oleh mereka, dan sepertinya mereka lupa atau tidak sadar bahwa patung patung peninggalan sejarah di museum ini sudah tidak ada yang menyembahnya lagi, dan mereka dengan nyaman mengabaikan berhala ego, berhala harta yang dijadikan tuhan oleh pangeran pangeran Saudi yang membiayai mereka, dan menurut beliau ini adalah karena mereka gagal melihat Islam dari sisi prinsipnya, mereka lebih memperhatikan kulit/bungkus dan melupakan isi/esensi.

Referensi:
https://www.youtube.com/watch?v=AJ9wvHq3eQ8
https://www.youtube.com/watch?v=fK7QOs4gzyU

Baru baru ini membaca postingan dari beberapa sahabat tentang bagaimana kemiskinan itu adalah buah dari yang tumbuh dari pohon kemalasan dan kebodohan.

Intinya, hanya orang malas dan bodoh yang miskin, jika saja mereka mau bekerja keras dan berusaha, tidak akan miskin. Terus terang saya agak kaget, membaca tulisan ini, yang walaupun di kemas dengan bahasa yang apik, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal ketika mencernanya.

Ada dua kiriman dari sahabat-sahabat itu, yang pertama adalah artikel yang mengambil dari buku Tom Corley, seorang penulis yang katanya melakukan survey selama bertahun tahun tentang kebiasaan orang kaya dan orang miskin, lalu kemudian dia menuliskannya dalam sebuah buku, kebiasaan orang kaya yang tidak dimiliki oleh orang miskin itu di tuliskannya dalam daftar yang cukup panjang, dan banyak yang ga nyambung, misalnya 80% orang kaya ngucapin selamat ulang tahun, dibanding orang miskin yang hanya 11% [lha, gimana mau ngucapin selamat ulang tahun. Kalau lahirnya aja nggak tahu kapan…], atau orang kaya lebih banyak yang gosok gigi dibanding orang tak punya, berikut sebagian dari daftar kebiasaan orang kaya yang tidak dimiliki orang miskin menurutnya;

Baca tulisan selengkapnya…

Kekejaman seperti pemboman Asyura di Karbala tahun 2004 dan pemboman Masjid Askariya di tahun 2006 menjadi fokus berita berita, dan di sebut sebagai titik penting eskalasi konflik di Irak, dan dihubungkan dengan apa yang terjadi empat belas abad sebelumnya di tempat yang sama.

Dan jalannya takdir biasanya penuh liku. Dalam waktu seratus tahun semenjak wafatnya Husayn di Karbala, perbedaan antara Sunnah dan Syiah semakin tampak, tetapi perbedaan itu lebih tampak dalam bidang teologi dibanding bidang politik. Dan kerana kekuasaan kekhalifahan Islam yang membentang luas menembus batas batas etnik, budaya, dan ras, mengakibatkan sulit untuk menjaga kekuasaan politik secara sentral. Dan di abad ke Sembilan, di saat melemahnya kekuasaan Abbasiyah, pemimpin agama terpisah dengan pemimpin negara. Dan di tengah sulitnya mendapatkan konsensus politik, para Ulama tampil menjadi rujukan bagi masyarakat.

Baca Kisah Selanjutnya…

Anjing dan Srigala tidak memangsa jenazah di padang karbala seperti yang di rencanakan Syimir. Ketika dia dan pasukannya menggiring para tawanan dari keluarga Nabi ke Kufah, para petani dari desa sekitar mendatangi tempat itu dan menguburkan 72 Jenazah tanpa kepala, lalu menandai makamnya. Dan mulai empat tahun kemudian, peziarah – awal dari jutaan orang yang sekarang datang tiap tahun – mulai mendatangi tempat ini, memperingati pembantaian terhadap representasi Islam yang dilakukan oleh mereka yang mengaku beragama Islam, dan merekalah yang memberikan nama tempat ini Karbala ‘tempat ujian dan penderitaan’.

Kepala Al Husayn memiliki banyak tempat peristirahatan terakhir, keberadaannya menyebar bersamaan dengan cerita mengenai apa yang terjadi kemudian. Kebanyakan kabar adalah kepala beliau di makamkan di dinding timur dari Masjid Besar Damaskus, sebagian lain berkata bahwa kepala beliau di kuburkan di Masjid Al Azhar di Kairo, juga ada yang mengabarkan di Azerbaijan, dan ada juga yang mengatakan bahwa pada akhirnya dibawa kembali ke Karbala.

Tetapi yang lebih penting dari peninggalan materi beliau, adalah cerita dan pesan yang dibawanya, dan adalah mereka dari keluarganya yang selamat menceritakan kisah perjuangannya – para wanita dan anak anak perempuan, serta seorang anak laki laki.

Baca Kisah Selengkapnya…

Tidak benar jika dikatakan Husayn tidak tahu apa yang menantinya [karena jika dia berambisi untuk kepentingan pribadi, tidak akan juga bawa hanya keluarga dan pengikut setia yang berjumlah tidak seberapa]. Intinya adalah beliau tahu apa yang akan terjadi, tetapi tetap juga berjalan. Begitu banyak peringatan dari begitu banyak orang, peringatan yang bahkan dimulai semenjak dia bergerak menuju Irak. [Salah satunya dari penyair besar arab, Farazdaq yang menemui beliau dan berkata kepadanya tentang orang orang Irak… “Hati mereka bersama mu tetapi pedang mereka diarahkan padamu”].

“Siapa yang bisa menjamin nanti apakah orang Kufah akan bangkit dan melawan penjajah mereka?” ujar salah satu sepupunya. “Mereka ini adalah orang orang yang selalu bisa dibeli. Mereka itu hamba hamba dirham. Aku khawatir mereka akan meninggalkanmu, atau malah memerangi mu”.

Tetapi Husayn sepertinya sudah tidak bisa digoyahkan lagi atas hal hal seperti itu. “Demi Allah, saudaraku, aku tahu nasihat mu baik dan masuk akal,” jawabnya. “Tetapi apa yang sudah di takdirkan akan tetap terjadi walaupun aku mendengarkan nasehat mu ataupun tidak.”

Baca Kisah Selanjutnya…

Di pagi hari tanggal 9 September tahun 680, rombongan kecil berangkat pergi dari Mekkah, [pada waktu itu sedang musim haji], rombongan itu berangkat menuju Irak, dan pemimpinnya adalah Husayn putra Ali. Sudah sembilan tahun berlalu sejak dia dan abangnya, Hasan, menguburkan ayah mereka di tanah gersang di luar kota Kufah, dan kemudian berjalan pulang menuju dataran tinggi Hijaz. Husayn menunggu dengan kesabaran yang tak terperi sementara Muawiyah memperkuat pengaruh dan kekuasaannya, tetapi sekarang penantian telah usai, Muawiyah sudah mati, dan Husayn bertekad untuk mengembalikan kepemimpinan Islam ke jalur yang benar, ke Ahlul Bayt Nabi. Perpecahan yang dimulai dengan wafatnya Nabi, dan terbentuk pada figur Ali, sekarang mencapai generasi ke tiga. Dan sekarang akan semakin membekas dengan suatu tragedi yang melukai Islam sampai ke sumsumnya, dan akan terus membekas hingga berabad-abad mendatang.

Husayn sekarang di usia pertengahan lima puluhan, dan jelas terlihat. Janggutnya sudah terlihat beruban sebagian, dengan keriput tulang pipinya yang menggambarkan perjuangan. Walaupun begitu, poster poster yang memenuhi pasar pasar di Irak dan Iran sekarang ini menggambarkan sosok pria yang sangat gagah dan tampan di usia pertengahan tiga puluhan. Dengan rambut hitam panjang sampai ke bahu, dan janggut yang hitam dan lembut, tanpa adanya satu pun uban yang terlihat. Wajahnya terlihat bersih bercahaya, binar matanya yang gelap dan sejuk memancarkan kesedihan sekaligus ketegaran, seakan akan mata itu pernah melihat hal yang paling sedih sekaligus paling membahagiakan di dunia ini.

Baca Kisah Selanjutnya…

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 47 pengikut lainnya