Feeds:
Pos
Komentar

Baru baru ini membaca postingan dari beberapa sahabat tentang bagaimana kemiskinan itu adalah buah dari yang tumbuh dari pohon kemalasan dan kebodohan.

Intinya, hanya orang malas dan bodoh yang miskin, jika saja mereka mau bekerja keras dan berusaha, tidak akan miskin. Terus terang saya agak kaget, membaca tulisan ini, yang walaupun di kemas dengan bahasa yang apik, sepertinya ada sesuatu yang mengganjal ketika mencernanya.

Ada dua kiriman dari sahabat-sahabat itu, yang pertama adalah artikel yang mengambil dari buku Tom Corley, seorang penulis yang katanya melakukan survey selama bertahun tahun tentang kebiasaan orang kaya dan orang miskin, lalu kemudian dia menuliskannya dalam sebuah buku, kebiasaan orang kaya yang tidak dimiliki oleh orang miskin itu di tuliskannya dalam daftar yang cukup panjang, dan banyak yang ga nyambung, misalnya 80% orang kaya ngucapin selamat ulang tahun, dibanding orang miskin yang hanya 11% [lha, gimana mau ngucapin selamat ulang tahun. Kalau lahirnya aja nggak tahu kapan…], atau orang kaya lebih banyak yang gosok gigi dibanding orang tak punya, berikut sebagian dari daftar kebiasaan orang kaya yang tidak dimiliki orang miskin menurutnya;

Baca tulisan selengkapnya…

Iklan

Kekejaman seperti pemboman Asyura di Karbala tahun 2004 dan pemboman Masjid Askariya di tahun 2006 menjadi fokus berita berita, dan di sebut sebagai titik penting eskalasi konflik di Irak, dan dihubungkan dengan apa yang terjadi empat belas abad sebelumnya di tempat yang sama.

Dan jalannya takdir biasanya penuh liku. Dalam waktu seratus tahun semenjak wafatnya Husayn di Karbala, perbedaan antara Sunnah dan Syiah semakin tampak, tetapi perbedaan itu lebih tampak dalam bidang teologi dibanding bidang politik. Dan kerana kekuasaan kekhalifahan Islam yang membentang luas menembus batas batas etnik, budaya, dan ras, mengakibatkan sulit untuk menjaga kekuasaan politik secara sentral. Dan di abad ke Sembilan, di saat melemahnya kekuasaan Abbasiyah, pemimpin agama terpisah dengan pemimpin negara. Dan di tengah sulitnya mendapatkan konsensus politik, para Ulama tampil menjadi rujukan bagi masyarakat.

Baca Kisah Selanjutnya…

Anjing dan Srigala tidak memangsa jenazah di padang karbala seperti yang di rencanakan Syimir. Ketika dia dan pasukannya menggiring para tawanan dari keluarga Nabi ke Kufah, para petani dari desa sekitar mendatangi tempat itu dan menguburkan 72 Jenazah tanpa kepala, lalu menandai makamnya. Dan mulai empat tahun kemudian, peziarah – awal dari jutaan orang yang sekarang datang tiap tahun – mulai mendatangi tempat ini, memperingati pembantaian terhadap representasi Islam yang dilakukan oleh mereka yang mengaku beragama Islam, dan merekalah yang memberikan nama tempat ini Karbala ‘tempat ujian dan penderitaan’.

Kepala Al Husayn memiliki banyak tempat peristirahatan terakhir, keberadaannya menyebar bersamaan dengan cerita mengenai apa yang terjadi kemudian. Kebanyakan kabar adalah kepala beliau di makamkan di dinding timur dari Masjid Besar Damaskus, sebagian lain berkata bahwa kepala beliau di kuburkan di Masjid Al Azhar di Kairo, juga ada yang mengabarkan di Azerbaijan, dan ada juga yang mengatakan bahwa pada akhirnya dibawa kembali ke Karbala.

Tetapi yang lebih penting dari peninggalan materi beliau, adalah cerita dan pesan yang dibawanya, dan adalah mereka dari keluarganya yang selamat menceritakan kisah perjuangannya – para wanita dan anak anak perempuan, serta seorang anak laki laki.

Baca Kisah Selengkapnya…

Tidak benar jika dikatakan Husayn tidak tahu apa yang menantinya [karena jika dia berambisi untuk kepentingan pribadi, tidak akan juga bawa hanya keluarga dan pengikut setia yang berjumlah tidak seberapa]. Intinya adalah beliau tahu apa yang akan terjadi, tetapi tetap juga berjalan. Begitu banyak peringatan dari begitu banyak orang, peringatan yang bahkan dimulai semenjak dia bergerak menuju Irak. [Salah satunya dari penyair besar arab, Farazdaq yang menemui beliau dan berkata kepadanya tentang orang orang Irak… “Hati mereka bersama mu tetapi pedang mereka diarahkan padamu”].

“Siapa yang bisa menjamin nanti apakah orang Kufah akan bangkit dan melawan penjajah mereka?” ujar salah satu sepupunya. “Mereka ini adalah orang orang yang selalu bisa dibeli. Mereka itu hamba hamba dirham. Aku khawatir mereka akan meninggalkanmu, atau malah memerangi mu”.

Tetapi Husayn sepertinya sudah tidak bisa digoyahkan lagi atas hal hal seperti itu. “Demi Allah, saudaraku, aku tahu nasihat mu baik dan masuk akal,” jawabnya. “Tetapi apa yang sudah di takdirkan akan tetap terjadi walaupun aku mendengarkan nasehat mu ataupun tidak.”

Baca Kisah Selanjutnya…

Di pagi hari tanggal 9 September tahun 680, rombongan kecil berangkat pergi dari Mekkah, [pada waktu itu sedang musim haji], rombongan itu berangkat menuju Irak, dan pemimpinnya adalah Husayn putra Ali. Sudah sembilan tahun berlalu sejak dia dan abangnya, Hasan, menguburkan ayah mereka di tanah gersang di luar kota Kufah, dan kemudian berjalan pulang menuju dataran tinggi Hijaz. Husayn menunggu dengan kesabaran yang tak terperi sementara Muawiyah memperkuat pengaruh dan kekuasaannya, tetapi sekarang penantian telah usai, Muawiyah sudah mati, dan Husayn bertekad untuk mengembalikan kepemimpinan Islam ke jalur yang benar, ke Ahlul Bayt Nabi. Perpecahan yang dimulai dengan wafatnya Nabi, dan terbentuk pada figur Ali, sekarang mencapai generasi ke tiga. Dan sekarang akan semakin membekas dengan suatu tragedi yang melukai Islam sampai ke sumsumnya, dan akan terus membekas hingga berabad-abad mendatang.

Husayn sekarang di usia pertengahan lima puluhan, dan jelas terlihat. Janggutnya sudah terlihat beruban sebagian, dengan keriput tulang pipinya yang menggambarkan perjuangan. Walaupun begitu, poster poster yang memenuhi pasar pasar di Irak dan Iran sekarang ini menggambarkan sosok pria yang sangat gagah dan tampan di usia pertengahan tiga puluhan. Dengan rambut hitam panjang sampai ke bahu, dan janggut yang hitam dan lembut, tanpa adanya satu pun uban yang terlihat. Wajahnya terlihat bersih bercahaya, binar matanya yang gelap dan sejuk memancarkan kesedihan sekaligus ketegaran, seakan akan mata itu pernah melihat hal yang paling sedih sekaligus paling membahagiakan di dunia ini.

Baca Kisah Selanjutnya…

Pasukan Imam Ali memulai perjalanan kembali mereka ke Kufah dengan moral yang rendah, dan perasaan yang bercampur antara marah dan gelisah. Banyak dari mereka sekarang yang menyesal karena telah menerima kesepakatan perundingan dengan Muawiyah di Shiffin. Bisa jadi mereka sekarang baru menyadari mereka kena jebakan betmen, dan iman mereka di gunakan melawan mereka, karena yang paling kecewa justru adalah mereka yang paling ngotot untuk meletakkan senjata ketika melihat lembaran lembaran Qur’an di lekatkan ke ujung ujung tombak pasukan berkuda Muawiyah.

Dan karena sekarang Muawiyah sudah kembali berada di istana hijaunya di Damaskus, maka mereka melampiaskan kekecewaan mereka pada orang yang membawa mereka ke Shiffin pertama kali.

Menyalahkan Ali atas sesuatu yang mereka sendiri memaksa Ali melakukannya [sungguh kalau kata orang betawi, muna atau yuni], mereka akan berubah menjadi bentuk musuh yang baru, bukan berasal dari Mekkah atau dari Syria, tetapi dari pendukungnya sendiri – dan musuh yang lebih berbahaya karena orang orang ini dibakar bukan oleh nafsu duniawi, tetapi oleh berhala dalam diri, yang merasa benar sendiri dan paling suci, sehingga akal sudah tidak lagi berfungsi, inilah mereka yang sekarang dikenal dengan julukan kaum takfiri, dan pada masa itu, mereka di kenal sebagai khawarij.

Baca Kisah Selanjutnya…

Sekarang, tentunya adalah waktu keemasan buat Ali, waktu yang telah lama di tunggu tunggu oleh para pendukungnya. Setelah kemenangan gemilang dalam perang Jamal, posisi beliau sepertinya sudah tidak bisa di goyang. Tetapi tentunya dia bisa merasakan tampuk kekuasaan yang dia klaim sebagai hak nya dari awal telah berdebu semenjak pertama kali dia seharusnya menjabatnya. Dia telah menjadi Khalifah selama empat bulan, dan tetap akan menjadi khalifah selama hanya empat setengah tahun lagi.

Dan seperti para sejarawan Islam menceritakan kisah Imam Ali yang memimpin dalam waktu relatif singkat, masa ini akan penuh tragedi, seperti yang di ucapkan oleh Scott F Fitzgerald, tunjukkan kepadaku seorang pahlawan, dan akan ku tuliskan kisah tragedi.

Akan dikisahkan bagaimana seorang pemimpin yang bijaksana dengan budi pekerti luhur yang akhirnya dijatuhkan oleh ketinggian akhlaqnya yang menolak untuk menghalalkan segala cara. Tentang seorang laki laki dengan prinsip moral yang mulia yang akhirnya jatuh karena tidak mau melanggar prinsip prinsip moralnya. Tentang seorang pemimpin yang dikhianati oleh kebodohan pendukungnya serta kelicikan para musuhnya. Dan Ali juga menerima mandat dalam kondisi yang tidak ideal, dimana dari awal sudah terjadi konflik, yang semua itu di luar kendali beliau – beliau berusaha semua yang bisa beliau lakukan mencegah terbunuhnya Usman – tetapi tetap saja faktanya adalah Usman terbunuh.

Baca Kisah Selanjutnya…